logo

Crowdly

Browser

Add to Chrome

 NASKAH / TEKS ...

✅ The verified answer to this question is available below. Our community-reviewed solutions help you understand the material better.

 NASKAH / TEKS

     Semua orang

tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan

masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di

punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan

mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan

polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.

     Di tepi

kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang

singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman

akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka

terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya

hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak

menemukan akal.

     “Cari

sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita

dapat mencabut singkong sialan ini.”

     “Percuma.

Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta.

“Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang

ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”

     “Air?” ejek

Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”

     “Sudah,

sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai

pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.

     Dengan

tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat

kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan

kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah.

Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi

sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar

jari tercabut.

     Adat Dukuh

Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di

sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi

singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya

satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi

masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing

sendiri.

     Sambil

membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya

melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang

gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah

tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu  mereka melihat Srintil sedang asyik bermain

seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang

lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.

     Duduk

bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa

pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang

kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya,

Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante,

tiwas ngegot ning ora suwe.

     Lagu erotik. Srintil, perawan yang

baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil

belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak

akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul

sekali pun.

Apa

yang menyebabkan ketiga teman sekawan mendapatkan hasil yang tidak seimbang

berdasarkan kutipan novel di atas?

0%
100%
0%
0%
0%
More questions like this

Want instant access to all verified answers on snbt-dua.prosusinten.org?

Get Unlimited Answers To Exam Questions - Install Crowdly Extension Now!

Browser

Add to Chrome