logo

Crowdly

Browser

Додати до Chrome

Secara meteorologis, El Niño merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) d...

✅ Перевірена відповідь на це питання доступна нижче. Наші рішення, перевірені спільнотою, допомагають краще зрозуміти матеріал.

Secara meteorologis, El Niño merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Pemanasan ini memicu pergeseran sirkulasi atmosfer di wilayah ekuator. Di bawah kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat melintasi Samudra Pasifik, mendorong air hangat ke arah perairan Indonesia dan membawa uap air yang membentuk awan hujan. Namun, saat El Niño terjadi, angin pasat tersebut melemah atau bahkan berbalik arah. Kondisi inilah yang menjadi alasan utama mengapa massa uap air gagal bergerak ke arah barat (Indonesia), melainkan menumpuk di Pasifik tengah dan pesisir Amerika Selatan.

Melemahnya aliran uap air ke wilayah nusantara akibat El Niño membawa dampak klimatologis yang masif. Peristiwa ini memicu penurunan curah hujan secara drastis di sebagian besar wilayah Indonesia, yang berujung pada kemarau panjang. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), defisit curah hujan selama periode El Niño ekstrem dapat mencapai 40-60% di bawah batas normal. Kekeringan parah ini berdampak langsung pada sektor pertanian, menyebabkan gagal panen ribuan hektare sawah, serta memicu krisis air bersih di berbagai wilayah padat penduduk.

Di samping krisis air dan pangan, El Niño juga bertindak sebagai katalisator bagi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peristiwa El Niño terburuk yang pernah tercatat dalam sejarah modern Indonesia terjadi pada periode 1997--1998. Pada rentang waktu tersebut, cuaca yang teramat kering mengubah vegetasi hutan daratan rendah dan lahan gambut menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut. Akibatnya, kebakaran hutan melanda lebih dari 9,7 juta hektare wilayah di Sumatra dan Kalimantan, menghasilkan kabut asap pekat yang melumpuhkan aktivitas penerbangan, perekonomian, hingga memicu darurat kesehatan di beberapa negara Asia Tenggara.

Seiring berjalannya waktu, kesadaran akan siklus El Niño mendorong pemerintah dan masyarakat melakukan langkah mitigasi terstruktur ke dalam tiga pendekatan utama. Pertama, mitigasi berbasis infrastruktur fisik yang diwujudkan melalui pembangunan embung sebagai penyimpan cadangan air. Kedua, mitigasi berbasis ekologis yang berfokus pada upaya restorasi lahan gambut agar terhindar dari kebakaran. Ketiga, mitigasi berbasis teknologi yang meliputi penerapan modifikasi cuaca jauh sebelum musim kemarau tiba. Melalui pengelompokan upaya adaptasi dan mitigasi yang berkelanjutan tersebut, dampak kerugian ekologis maupun ekonomi di masa depan diharapkan dapat ditekan dengan lebih efektif.

Berdasarkan teks tentang fenomena El Niño di atas, tentukan apakah pernyataan-pernyataan berikut bernilai Benar atau Salah! Berilah tanda centang (V) pada kolom yang sesuai!

NoPernyataanBenarSalah
1Dalam kondisi atmosfer normal, uap air yang dibawa oleh angin pasat bergerak menuju wilayah Pasifik Tengah dan Amerika Selatan.  
2Berdasarkan laporan BMKG, fenomena El Niño ekstrem mampu memangkas curah hujan di Indonesia hingga setengah dari kondisi normal.  
3Peristiwa El Niño secara langsung menyulut api yang membakar 9,7 juta hektare hutan di Sumatra dan Kalimantan pada tahun 1997-1998.  
4Kabut asap akibat kebakaran hutan pada periode 1997-1998 memiliki skala yang masif hingga memberikan dampak bagi negara-negara tetangga di Asia Tenggara.  
5Penerapan modifikasi cuaca dan restorasi gambut dilakukan pemerintah dengan tujuan mencegah terjadinya siklus pemanasan suhu muka laut El Niño.  

0%
0%
0%
0%
100%
Більше питань подібних до цього

Хочете миттєвий доступ до всіх перевірених відповідей на moodle.ignatiusglobal.sch.id?

Отримайте необмежений доступ до відповідей на екзаменаційні питання - встановіть розширення Crowdly зараз!

Browser

Додати до Chrome