Questions Bank (1464588 total)
Secara meteorologis, El Niño merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Pemanasan ini memicu pergeseran sirkulasi atmosfer di wilayah ekuator. Di bawah kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat melintasi Samudra Pasifik, mendorong air hangat ke arah perairan Indonesia dan membawa uap air yang membentuk awan hujan. Namun, saat El Niño terjadi, angin pasat tersebut melemah atau bahkan berbalik arah. Kondisi inilah yang menjadi alasan utama mengapa massa uap air gagal bergerak ke arah barat (Indonesia), melainkan menumpuk di Pasifik tengah dan pesisir Amerika Selatan.Melemahnya aliran uap air ke wilayah nusantara akibat El Niño membawa dampak klimatologis yang masif. Peristiwa ini memicu penurunan curah hujan secara drastis di sebagian besar wilayah Indonesia, yang berujung pada kemarau panjang. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), defisit curah hujan selama periode El Niño ekstrem dapat mencapai 40-60% di bawah batas normal. Kekeringan parah ini berdampak langsung pada sektor pertanian, menyebabkan gagal panen ribuan hektare sawah, serta memicu krisis air bersih di berbagai wilayah padat penduduk.Di samping krisis air dan pangan, El Niño juga bertindak sebagai katalisator bagi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peristiwa El Niño terburuk yang pernah tercatat dalam sejarah modern Indonesia terjadi pada periode 1997-1998. Pada rentang waktu tersebut, cuaca yang teramat kering mengubah vegetasi hutan daratan rendah dan lahan gambut menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut. Akibatnya, kebakaran hutan melanda lebih dari 9,7 juta hektare wilayah di Sumatra dan Kalimantan, menghasilkan kabut asap pekat yang melumpuhkan aktivitas penerbangan, perekonomian, hingga memicu darurat kesehatan di beberapa negara Asia Tenggara.Seiring berjalannya waktu, kesadaran akan siklus El Niño mendorong pemerintah dan masyarakat melakukan langkah mitigasi terstruktur ke dalam tiga pendekatan utama. Pertama, mitigasi berbasis infrastruktur fisik yang diwujudkan melalui pembangunan embung sebagai penyimpan cadangan air. Kedua, mitigasi berbasis ekologis yang berfokus pada upaya restorasi lahan gambut agar terhindar dari kebakaran. Ketiga, mitigasi berbasis teknologi yang meliputi penerapan modifikasi cuaca jauh sebelum musim kemarau tiba. Melalui pengelompokan upaya adaptasi dan mitigasi yang berkelanjutan tersebut, dampak kerugian ekologis maupun ekonomi di masa depan diharapkan dapat ditekan dengan lebih efektif.Gagasan utama paragraf ke-2 adalah .... Secara meteorologis, El Niño merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Pemanasan ini memicu pergeseran sirkulasi atmosfer di wilayah ekuator. Di bawah kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat melintasi Samudra Pasifik, mendorong air hangat ke arah perairan Indonesia dan membawa uap air yang membentuk awan hujan. Namun, saat El Niño terjadi, angin pasat tersebut melemah atau bahkan berbalik arah. Kondisi inilah yang menjadi alasan utama mengapa massa uap air gagal bergerak ke arah barat (Indonesia), melainkan menumpuk di Pasifik tengah dan pesisir Amerika Selatan.Melemahnya aliran uap air ke wilayah nusantara akibat El Niño membawa dampak klimatologis yang masif. Peristiwa ini memicu penurunan curah hujan secara drastis di sebagian besar wilayah Indonesia, yang berujung pada kemarau panjang. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), defisit curah hujan selama periode El Niño ekstrem dapat mencapai 40-60% di bawah batas normal. Kekeringan parah ini berdampak langsung pada sektor pertanian, menyebabkan gagal panen ribuan hektare sawah, serta memicu krisis air bersih di berbagai wilayah padat penduduk.Di samping krisis air dan pangan, El Niño juga bertindak sebagai katalisator bagi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peristiwa El Niño terburuk yang pernah tercatat dalam sejarah modern Indonesia terjadi pada periode 1997-1998. Pada rentang waktu tersebut, cuaca yang teramat kering mengubah vegetasi hutan daratan rendah dan lahan gambut menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut. Akibatnya, kebakaran hutan melanda lebih dari 9,7 juta hektare wilayah di Sumatra dan Kalimantan, menghasilkan kabut asap pekat yang melumpuhkan aktivitas penerbangan, perekonomian, hingga memicu darurat kesehatan di beberapa negara Asia Tenggara.Seiring berjalannya waktu, kesadaran akan siklus El Niño mendorong pemerintah dan masyarakat melakukan langkah mitigasi terstruktur ke dalam tiga pendekatan utama. Pertama, mitigasi berbasis infrastruktur fisik yang diwujudkan melalui pembangunan embung sebagai penyimpan cadangan air. Kedua, mitigasi berbasis ekologis yang berfokus pada upaya restorasi lahan gambut agar terhindar dari kebakaran. Ketiga, mitigasi berbasis teknologi yang meliputi penerapan modifikasi cuaca jauh sebelum musim kemarau tiba. Melalui pengelompokan upaya adaptasi dan mitigasi yang berkelanjutan tersebut, dampak kerugian ekologis maupun ekonomi di masa depan diharapkan dapat ditekan dengan lebih efektif.Ide pokok paragraf pertama teks tersebut adalah .... Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga."Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam."Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.Latar yang memengaruhi perkembangan isi cerita dalam kutipan tersebut ditunjukkan oleh pernyataan ....(Pilihlah dua jawaban yang benar!)a. Latar waktu malam hari saat pertengkaran terjadi memicu trauma mendalam yang membuat Laras membenci laki-laki.b. Latar pemakaman desa di bawah pohon kamboja menjadi titik balik yang menghancurkan keangkuhan Laras dan memunculkan konflik batin penyesalannya.c. Latar Jakarta dan Paris sebagai tempat perantauan membuktikan tingginya kelas sosial Laras yang membuatnya dijauhi keluarganya di desa.d. Latar tempat rumah reyot di masa lalu menjadi motivasi utama Laras untuk kabur dan membuktikan bahwa ia mampu sukses secara finansial.e. Latar Bandara Internasional Yogyakarta menjadi puncak resolusi konflik antara Laras dan ibunya. Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga."Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam."Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.Masalah utama yang dihadapi tokoh Laras dalam kutipan cerita tersebut adalah .... Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga."Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam."Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.Penyebab masalah utama pada cerita di atas adalah .... Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga."Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam."Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.Berdasarkan kutipan cerita tersebut, manakah pernyataan yang paling tepat mengenai penggambaran watak tokoh Laras? (Pilihlah dua jawaban yang benar!)a. Tokoh Laras memiliki watak pendendam dan angkuh, terlihat dari niat kepulangannya untuk sekadar memamerkan kesuksesan.b. Tokoh Laras adalah sosok yang sangat pemaaf, terbukti dari keputusannya untuk langsung mengunjungi makam ibunya.c. Tokoh Laras merupakan pribadi yang ambisius dan tangguh, dibuktikan dengan keberhasilannya mengubah nasib dari penjahit menjadi desainer di Paris.d. Tokoh Laras sangat materialistis, terbukti dengan keputusannya menolak anak lurah dan memilih mencari uang di Eropa.e. Tokoh Laras memiliki sifat bijaksana, terlihat dari bagaimana ia menerima kenyataan pahit kematian ibunya dengan lapang dada. Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga."Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam."Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.Kelanjutan cerita yang paling logis berdasarkan konflik dan penokohan dalam kutipan tersebut adalah .... Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen."Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun."Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya."Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."Suasana yang tergambar pada keseluruhan kutipan cerita tersebut secara berurutan adalah .... Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen."Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun."Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya."Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."Penyebab masalah utama yang dialami Pak Darmo dalam kutipan tersebut adalah .... Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen."Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun."Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya."Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."Masalah utama pada kutipan cerita tersebut adalah ....