Looking for 1. TKA MATA PELAJARAN WAJIB test answers and solutions? Browse our comprehensive collection of verified answers for 1. TKA MATA PELAJARAN WAJIB at snbt-dua.prosusinten.org.
Get instant access to accurate answers and detailed explanations for your course questions. Our community-driven platform helps students succeed!
NASKAH / TEKS
Buah kecipir, atau yang dalam nama ilmiahnya dikenal sebagai , merupakan salah satu jenis sayuran tropis yang sangat mudah ditemukan di Indonesia. Sayuran yang memiliki bentuk unik dengan empat sudut bergerigi ini sering kali dijadikan lalapan rebus, bahan campuran pecel, atau ditumis sebagai hidangan pelengkap makan nasi. Sayangnya, meskipun harganya terjangkau dan rasanya lezat, pamor kecipir masih kalah dibandingkan sayuran hijau lainnya, seperti bayam atau brokoli.
Padahal, dari sudut pandang medis dan ilmu gizi, kecipir merupakan salah satu “superfood” lokal yang menyimpan segudang nutrisi luar biasa. Hampir seluruh bagian dari tanaman kecipir, mulai dari daun, bunga, akar, hingga bijinya, dapat dikonsumsi dan kaya akan protein. Bijinya bahkan memiliki profil asam amino yang sangat mirip dengan kedelai sehingga sangat berpotensi menjadi alternatif sumber protein nabati yang unggul untuk mencegah malanutrisi di negara-negara berkembang.
Mengonsumsi kecipir secara rutin dapat memberikan asupan vitamin, mineral, serta antioksidan yang optimal bagi tubuh. Mengandalkan sumber alami dari sayuran seperti ini sama pentingnya dengan usaha memenuhi kebutuhan gizi harian, layaknya ketika kamu rutin beli vitamin dan suplemen untuk menjaga vitalitas. Antioksidan yang terkandung di dalamnya sangat efektif dalam menangkal radikal bebas yang memicu berbagai penyakit kronis di masa depan.
Karena kaya akan vitamin C, kecipir dapat meningkatkan imunitas tubuh. Senyawa ini bekerja dengan cara merangsang produksi sel darah putih (limfosit dan fagosit) yang berfungsi melindungi tubuh dari infeksi patogen seperti bakteri dan virus. Vitamin C juga sangat penting untuk sintesis kolagen, yaitu protein struktural yang menjaga kulit tetap kencang, elastis, dan bebas dari kerutan. Selain itu, kandungan vitamin dalam ini bekerja melawan stres oksidatif akibat paparan polusi, sinar UV, dan radikal bebas. Vitamin A juga memfasilitasi regenerasi sel kulit baru.
Kecipir juga merupakan salah satu sumber asam folat
(vitamin B9) alami yang sangat baik dibutuhkan ibu hamil. Senyawa ini
bertanggung jawab dalam proses sintesis DNA dan pembelahan sel. Selain itu, sayuran
ini memiliki indeks glikemik yang sangat rendah, yang berarti mengonsumsinya
tidak akan menyebabkan lonjakan kadar gula darah secara drastis setelah makan.
Serat pangan yang terkandung di dalamnya juga memperlambat proses penyerapan
karbohidrat di dalam usus sehingga melancarkan sistem pencernaan dan dapat bisa
dijadikan sahabat terbaik saat menjalankan program diet. Belum lagi adanya
kandungan kalsium dan fosfor yang cukup tinggi terkandung dalam sayuran hebat
ini. Konsumsi rutin sayuran ini sangat bermanfaat mencegah pengeroposan tulang
(osteoporosis) pada usia lanjut serta mendukung pertumbuhan tulang yang optimal
pada anak-anak dan remaja. Walau secara umum kecipir aman untuk semua orang, namun
individu yang memiliki riwayat alergi berat terhadap kacang-kacangan (legum)
atau memiliki kecenderungan pembentukan batu ginjal kalsium-oksalat sebaiknya
membatasi konsumsinya dan lebih baik mengonsumsi kecipir yang sudah direbus
matang.
Apa
makna kata “superfood” berdasarkan teks tersebut?
NASKAH / TEKS
Semua orang tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.
Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal.
“Cari sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita dapat mencabut singkong sialan ini.”
“Percuma. Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta. “Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”
“Air?” ejek Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”
“Sudah, sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.
Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar jari tercabut.
Adat Dukuh Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing sendiri.
Sambil membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu mereka melihat Srintil sedang asyik bermain seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.
Duduk bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya, Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante, tiwas ngegot ning ora suwe.
Lagu erotik. Srintil, perawan yang
baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil
belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak
akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul
sekali pun.
Latar
suasana yang didapatkan dari kutipan novel tersebut adalah ….
NASKAH / TEKS
Semua orang tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.
Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal.
“Cari sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita dapat mencabut singkong sialan ini.”
“Percuma. Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta. “Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”
“Air?” ejek Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”
“Sudah, sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.
Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar jari tercabut.
Adat Dukuh Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing sendiri.
Sambil membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu mereka melihat Srintil sedang asyik bermain seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.
Duduk bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya, Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante, tiwas ngegot ning ora suwe.
Lagu erotik. Srintil, perawan yang
baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil
belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak
akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul
sekali pun.
“Gumpalan
abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah-tingkah
kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.”
Kalimat
tersebut menggambarkan pesan penulis bahwa ….
NASKAH / TEKS
Semua orang tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.
Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal.
“Cari sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita dapat mencabut singkong sialan ini.”
“Percuma. Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta. “Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”
“Air?” ejek Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”
“Sudah, sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.
Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar jari tercabut.
Adat Dukuh Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing sendiri.
Sambil membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu mereka melihat Srintil sedang asyik bermain seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.
Duduk bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya, Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante, tiwas ngegot ning ora suwe.
Lagu erotik. Srintil, perawan yang
baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil
belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak
akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul
sekali pun.
Apa
yang menyebabkan ketiga teman sekawan mendapatkan hasil yang tidak seimbang
berdasarkan kutipan novel di atas?
NASKAH / TEKS
Semua orang tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.
Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal.
“Cari sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita dapat mencabut singkong sialan ini.”
“Percuma. Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta. “Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”
“Air?” ejek Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”
“Sudah, sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.
Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar jari tercabut.
Adat Dukuh Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing sendiri.
Sambil membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu mereka melihat Srintil sedang asyik bermain seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.
Duduk bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya, Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante, tiwas ngegot ning ora suwe.
Lagu erotik. Srintil, perawan yang
baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil
belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak
akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul
sekali pun.
Berdasarkan
kutipan novel tersebut, bagaimana sifat yang dimiliki Rasus?
NASKAH / TEKS
Semua orang tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.
Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal.
“Cari sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita dapat mencabut singkong sialan ini.”
“Percuma. Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta. “Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”
“Air?” ejek Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”
“Sudah, sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.
Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar jari tercabut.
Adat Dukuh Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing sendiri.
Sambil membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu mereka melihat Srintil sedang asyik bermain seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.
Duduk bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya, Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante, tiwas ngegot ning ora suwe.
Lagu erotik. Srintil, perawan yang
baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil
belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak
akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul
sekali pun.
Tema
kutipan novel tersebut adalah ….
NASKAH / TEKS
Semua orang tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.
Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal.
“Cari sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita dapat mencabut singkong sialan ini.”
“Percuma. Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta. “Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”
“Air?” ejek Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”
“Sudah, sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.
Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar jari tercabut.
Adat Dukuh Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing sendiri.
Sambil membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu mereka melihat Srintil sedang asyik bermain seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.
Duduk bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya, Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante, tiwas ngegot ning ora suwe.
Lagu erotik. Srintil, perawan yang
baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil
belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak
akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul
sekali pun.
Bagaimana
keterkaitan masalah dalam novel dengan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari?
INFOGRAFIK
Tanggapan
yang bisa didapatkan berdasarkan infografik di atas adalah ….
INFOGRAFIK
Berdasarkan
infografik, apa yang mungkin terjadi jika kita tidak mengolah sampah?
INFOGRAFIK
Berdasarkan
infografik, hal-hal apa saja yang paling mungkin bisa dilakukan untuk
mengurangi permasalahan sampah?
Jawaban benar lebih dari satu.