logo

Crowdly

Browser

Add to Chrome

1. TKA MATA PELAJARAN WAJIB

Looking for 1. TKA MATA PELAJARAN WAJIB test answers and solutions? Browse our comprehensive collection of verified answers for 1. TKA MATA PELAJARAN WAJIB at snbt-dua.prosusinten.org.

Get instant access to accurate answers and detailed explanations for your course questions. Our community-driven platform helps students succeed!

 NASKAH / TEKS

     Buah kecipir, atau yang

dalam nama ilmiahnya dikenal sebagai

Psophocarpus tetragonolobus

,

merupakan salah satu jenis sayuran tropis yang sangat mudah ditemukan di

Indonesia. Sayuran yang memiliki bentuk unik dengan empat sudut bergerigi ini

sering kali dijadikan lalapan rebus, bahan campuran pecel, atau ditumis sebagai

hidangan pelengkap makan nasi. Sayangnya, meskipun harganya terjangkau dan

rasanya lezat, pamor kecipir masih kalah dibandingkan sayuran hijau lainnya, seperti

bayam atau brokoli.

     Padahal, dari sudut

pandang medis dan ilmu gizi, kecipir merupakan salah satu “superfood” lokal

yang menyimpan segudang nutrisi luar biasa. Hampir seluruh bagian dari tanaman

kecipir, mulai dari daun, bunga, akar, hingga bijinya, dapat dikonsumsi dan

kaya akan protein. Bijinya bahkan memiliki profil asam amino yang sangat mirip

dengan kedelai sehingga sangat berpotensi menjadi alternatif sumber protein

nabati yang unggul untuk mencegah malanutrisi di negara-negara berkembang.

     Mengonsumsi kecipir

secara rutin dapat memberikan asupan vitamin, mineral, serta antioksidan yang

optimal bagi tubuh. Mengandalkan sumber alami dari sayuran seperti ini sama

pentingnya dengan usaha memenuhi kebutuhan gizi harian, layaknya ketika kamu

rutin beli vitamin dan suplemen untuk menjaga vitalitas. Antioksidan

yang terkandung di dalamnya sangat efektif dalam menangkal radikal bebas yang

memicu berbagai penyakit kronis di masa depan.

     Karena kaya akan

vitamin C, kecipir dapat meningkatkan imunitas tubuh.

Senyawa ini

bekerja dengan cara merangsang produksi sel darah putih (limfosit dan fagosit)

yang berfungsi melindungi tubuh dari infeksi patogen seperti bakteri dan virus.

Vitamin C juga sangat penting untuk sintesis kolagen, yaitu protein struktural

yang menjaga kulit tetap kencang, elastis, dan bebas dari kerutan. Selain itu, kandungan

vitamin dalam

superfood

ini bekerja melawan stres oksidatif akibat

paparan polusi, sinar UV, dan radikal bebas. Vitamin A juga memfasilitasi

regenerasi sel kulit baru.

     Kecipir juga merupakan salah satu sumber asam folat

(vitamin B9) alami yang sangat baik dibutuhkan ibu hamil. Senyawa ini

bertanggung jawab dalam proses sintesis DNA dan pembelahan sel. Selain itu, sayuran

ini memiliki indeks glikemik yang sangat rendah, yang berarti mengonsumsinya

tidak akan menyebabkan lonjakan kadar gula darah secara drastis setelah makan.

Serat pangan yang terkandung di dalamnya juga memperlambat proses penyerapan

karbohidrat di dalam usus sehingga melancarkan sistem pencernaan dan dapat bisa

dijadikan sahabat terbaik saat menjalankan program diet. Belum lagi adanya

kandungan kalsium dan fosfor yang cukup tinggi terkandung dalam sayuran hebat

ini. Konsumsi rutin sayuran ini sangat bermanfaat mencegah pengeroposan tulang

(osteoporosis) pada usia lanjut serta mendukung pertumbuhan tulang yang optimal

pada anak-anak dan remaja. Walau secara umum kecipir aman untuk semua orang, namun

individu yang memiliki riwayat alergi berat terhadap kacang-kacangan (legum)

atau memiliki kecenderungan pembentukan batu ginjal kalsium-oksalat sebaiknya

membatasi konsumsinya dan lebih baik mengonsumsi kecipir yang sudah direbus

matang.

Apa

makna kata “superfood” berdasarkan teks tersebut?

100%
0%
0%
0%
0%
View this question

 NASKAH / TEKS

     Semua orang

tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan

masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di

punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan

mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan

polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.

     Di tepi

kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang

singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman

akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka

terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya

hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak

menemukan akal.

     “Cari

sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita

dapat mencabut singkong sialan ini.”

     “Percuma.

Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta.

“Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang

ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”

     “Air?” ejek

Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”

     “Sudah,

sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai

pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.

     Dengan

tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat

kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan

kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah.

Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi

sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar

jari tercabut.

     Adat Dukuh

Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di

sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi

singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya

satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi

masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing

sendiri.

     Sambil

membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya

melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang

gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah

tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu  mereka melihat Srintil sedang asyik bermain

seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang

lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.

     Duduk

bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa

pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang

kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya,

Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante,

tiwas ngegot ning ora suwe.

     Lagu erotik. Srintil, perawan yang

baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil

belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak

akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul

sekali pun.

Latar

suasana yang didapatkan dari kutipan novel tersebut adalah ….

0%
0%
0%
0%
100%
View this question

 NASKAH / TEKS

     Semua orang

tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan

masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di

punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan

mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan

polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.

     Di tepi

kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang

singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman

akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka

terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya

hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak

menemukan akal.

     “Cari

sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita

dapat mencabut singkong sialan ini.”

     “Percuma.

Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta.

“Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang

ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”

     “Air?” ejek

Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”

     “Sudah,

sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai

pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.

     Dengan

tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat

kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan

kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah.

Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi

sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar

jari tercabut.

     Adat Dukuh

Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di

sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi

singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya

satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi

masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing

sendiri.

     Sambil

membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya

melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang

gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah

tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu  mereka melihat Srintil sedang asyik bermain

seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang

lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.

     Duduk

bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa

pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang

kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya,

Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante,

tiwas ngegot ning ora suwe.

     Lagu erotik. Srintil, perawan yang

baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil

belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak

akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul

sekali pun.

“Gumpalan

abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah-tingkah

kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.”

Kalimat

tersebut menggambarkan pesan penulis bahwa ….

0%
100%
0%
0%
0%
View this question

 NASKAH / TEKS

     Semua orang

tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan

masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di

punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan

mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan

polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.

     Di tepi

kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang

singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman

akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka

terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya

hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak

menemukan akal.

     “Cari

sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita

dapat mencabut singkong sialan ini.”

     “Percuma.

Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta.

“Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang

ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”

     “Air?” ejek

Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”

     “Sudah,

sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai

pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.

     Dengan

tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat

kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan

kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah.

Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi

sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar

jari tercabut.

     Adat Dukuh

Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di

sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi

singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya

satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi

masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing

sendiri.

     Sambil

membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya

melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang

gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah

tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu  mereka melihat Srintil sedang asyik bermain

seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang

lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.

     Duduk

bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa

pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang

kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya,

Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante,

tiwas ngegot ning ora suwe.

     Lagu erotik. Srintil, perawan yang

baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil

belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak

akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul

sekali pun.

Apa

yang menyebabkan ketiga teman sekawan mendapatkan hasil yang tidak seimbang

berdasarkan kutipan novel di atas?

0%
100%
0%
0%
0%
View this question

 NASKAH / TEKS

     Semua orang

tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan

masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di

punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan

mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan

polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.

     Di tepi

kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang

singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman

akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka

terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya

hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak

menemukan akal.

     “Cari

sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita

dapat mencabut singkong sialan ini.”

     “Percuma.

Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta.

“Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang

ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”

     “Air?” ejek

Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”

     “Sudah,

sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai

pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.

     Dengan

tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat

kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan

kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah.

Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi

sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar

jari tercabut.

     Adat Dukuh

Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di

sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi

singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya

satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi

masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing

sendiri.

     Sambil

membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya

melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang

gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah

tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu  mereka melihat Srintil sedang asyik bermain

seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang

lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.

     Duduk

bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa

pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang

kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya,

Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante,

tiwas ngegot ning ora suwe.

     Lagu erotik. Srintil, perawan yang

baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil

belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak

akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul

sekali pun.

Berdasarkan

kutipan novel tersebut, bagaimana sifat yang dimiliki Rasus?

0%
0%
0%
0%
100%
View this question

 NASKAH / TEKS

     Semua orang

tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan

masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di

punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan

mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan

polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.

     Di tepi

kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang

singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman

akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka

terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya

hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak

menemukan akal.

     “Cari

sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita

dapat mencabut singkong sialan ini.”

     “Percuma.

Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta.

“Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang

ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”

     “Air?” ejek

Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”

     “Sudah,

sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai

pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.

     Dengan

tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat

kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan

kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah.

Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi

sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar

jari tercabut.

     Adat Dukuh

Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di

sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi

singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya

satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi

masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing

sendiri.

     Sambil

membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya

melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang

gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah

tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu  mereka melihat Srintil sedang asyik bermain

seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang

lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.

     Duduk

bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa

pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang

kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya,

Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante,

tiwas ngegot ning ora suwe.

     Lagu erotik. Srintil, perawan yang

baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil

belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak

akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul

sekali pun.

Tema

kutipan novel tersebut adalah ….

100%
0%
0%
0%
0%
View this question

 NASKAH / TEKS

     Semua orang

tahu Ki Secamenggala, nenek moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan

masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di

punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan

mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan

polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.

     Di tepi

kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang

singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman

akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka

terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya

hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak

menemukan akal.

     “Cari

sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita

dapat mencabut singkong sialan ini.”

     “Percuma.

Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah tanah sekeras ini,” ujar Warta.

“Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang

ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”

     “Air?” ejek

Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?”

     “Sudah,

sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai

pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.

     Dengan

tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat

kecil di tangan dan punggung mereka menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan

kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah.

Ketika akar terakhir putus, ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi

sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar

jari tercabut.

     Adat Dukuh

Paruk mengatakan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di

sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi

singkong yang baru mereka cabut. Rasus, Warta mendapat dua buah. Darsun hanya

satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi

masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing

sendiri.

     Sambil

membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya

melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang

gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang. Ketiganya berjalan ke sebuah

tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu  mereka melihat Srintil sedang asyik bermain

seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang

lidi untuk dijadikan sebuah mahkota.

     Duduk

bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa

pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang-orang tua bertembang

kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kenakan-kanakannya,

Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante,

tiwas ngegot ning ora suwe.

     Lagu erotik. Srintil, perawan yang

baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil

belum faham benar makna lirik lagu itu. Namun, sama saja. Dukuh Paruk tidak

akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul

sekali pun.

Bagaimana

keterkaitan masalah dalam novel dengan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari?

0%
0%
0%
100%
0%
View this question

 INFOGRAFIK

Tanggapan

yang bisa didapatkan berdasarkan infografik di atas adalah ….

67%
0%
0%
33%
0%
View this question

 INFOGRAFIK

Berdasarkan

infografik, apa yang mungkin terjadi jika kita tidak mengolah sampah?

0%
67%
33%
0%
0%
View this question

 INFOGRAFIK

Berdasarkan

infografik, hal-hal apa saja yang paling mungkin bisa dilakukan untuk

mengurangi permasalahan sampah?

Jawaban

benar lebih dari satu.

0%
100%
100%
100%
67%
View this question

Want instant access to all verified answers on snbt-dua.prosusinten.org?

Get Unlimited Answers To Exam Questions - Install Crowdly Extension Now!

Browser

Add to Chrome