✅ Перевірена відповідь на це питання доступна нижче. Наші рішення, перевірені спільнотою, допомагають краще зрозуміти матеріал.
NASKAH / TEKS
Siapa Parkir di Situ?
Rustam mengumpat kasar. Mukanya merah padam melihat mobil yang untuk ke sekian kali terparkir di depan pagar rumahnya. “Ini tidak bisa dibiarkan.” Rustam membuka pagar. Langkahnya lebar-lebar. Tempo hari, Rustam dan istrinya diam saja ketika mobil itu parkir di sana. Mereka pikir, paling sebentar. Besok-besok juga pasti sudah tidak ada. Tapi ternyata, didiamkan …, eh, malah keterusan. Setiap malam, barangkali sepulang kerja, pemiliknya memarkir mobil itu di depan rumah Rustam. Padahal, tanda parkir “Dilarang Parkir” sudah dipasang Pak Rustam di depan pagar rumahnya.
Rustam berdecak kesal. Dongkol benar tampaknya pensiunan guru itu. Ia lalu berjalan menuju arah gang sempit yang berada persis di samping rumahnya. Dari info yang ia dengar kemarin, pemilik mobil itu adalah penghuni baru di kontrakan yang berada di belakang rumahnya. Secara kebetulan, Haji Subur, pemilik kontrakan, yang baru pulang salat Subuh di masjid, datang dan menghampirinya.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Haji Subur dengan dahi mengernyit. Barangkali ia heran dengan apa yang dilakukan tetangganya subuh-subuh begitu. Rustam pun menjelaskan maksudnya dengan nada berapi-api, mirip yang sedang berorasi.
Haji Subur hanya manggut-manggut. Percuma juga menanggapi orang yang sedang emosi, pikirnya. Ia lalu mengantar Rustam ke kamar pemilik mobil hitam itu.
Diketuknya pintu kamar tiga kali. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab seorang lelaki dari dalam.
Saat daun pintu terbuka, tampaklah seorang lelaki berperawakan jangkung, berkulit bersih, dan berwajah penuh wibawa. “Ada apa?” tanyanya dengan nada arogan. Sebelum Rustam keburu merepet dengan amarahnya, Haji Subur sudah mendahului bicara. “Nak Rendi, ini Pak Rustam,” ucap Haji Subur ramah, berusaha mencairkan suasana. “Beliau ini pemilik rumah di depan jalan raya sana. Beliau keberatan kalau mobil Nak Rendi diparkir di depan rumahnya.”
“Nanti siang juga saya pergi lagi. Cuma nitip kalau malam saja masa tidak boleh.”
“Tidak boleh!” teriak Rustam. Akhirnya emosinya meledak juga. “Ga lihat apa, ada tanda dilarang parkir depan pagar? Kalau tidak punya garasi, atau enggak sanggup sewa garasi, ya jangan punya mobil.”
“Loh, kok, Bapak jadi ngatur-ngatur saya!” Rendi tak kalah nyolot. “Lagian, saya ga lihat tanda apa pun di depan pagar!”
Haji Subur berusaha menengahi. “Nak Rendi, mulai hari ini, tidak boleh lagi parkir di depan rumah Pak Rustam. Beliau punya hak atas itu. Jadi, silakan cari tempat parkir lain!” Kali ini nada bicara Haji Subur lebih tegas dan penuh penekanan.
“Iya, iya. Nanti saya cari tempat parkir lain.” Pria tiga puluh tahun itu membuang muka.
“Ya sudah kalau begitu.” Haji Subur lalu mengajak Rustam beranjak dari tempat itu. Mereka berjalan beriringan sambil mengobrol. “Harap maklum ya, Pak Rustam. Anak muda memang kadang suka tidak tahu aturan.”
“Ya, tidak apa-apa, Ji! Saya cuma tidak habis pikir sama anak zaman sekarang. Pada bisa beli mobil bagus, tapi tinggal masih di kontrakan. Mobilnya, kan, jadi, diparkir sembarangan.”
Mereka berpisah di persimpangan jalan. Rustam segera masuk ke rumah, dan menceritakan semua kepada istrinya. “Syukurlah kalau begitu, Pak. Orang seperti itu memang harus diberi pelajaran,” kata istrinya dengan wajah puas, penuh kemenangan.
Namun, kemenangan itu nyatanya
tidak berlangsung lama. Dua hari berikutnya, ada mobil lain yang diam-diam
parkir di depan rumah mereka. Pemiliknya ternyata tinggal jauh di dalam gang
sana. Rustam kembali naik pitam. Pun istrinya kembali menghela napas panjang.
Manakah
relevansi paling kuat dalam kutipan certa dengan ketimpangan yang terjadi di
kehidupan sehari-hari?