logo

Crowdly

Browser

Додати до Chrome

Questions Bank (1464414 total)

Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga.

"Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.

Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.

Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam.

"Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.

Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.

Penyebab masalah utama pada cerita di atas adalah ....
0%
0%
100%
0%
0%
Переглянути це питання
Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga.

"Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.

Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.

Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam.

"Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.

Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.

Berdasarkan kutipan cerita tersebut, manakah pernyataan yang paling tepat mengenai penggambaran watak tokoh Laras? (Pilihlah dua jawaban yang benar!)

a.      Tokoh Laras memiliki watak pendendam dan angkuh, terlihat dari niat kepulangannya untuk sekadar memamerkan kesuksesan.

b.      Tokoh Laras adalah sosok yang sangat pemaaf, terbukti dari keputusannya untuk langsung mengunjungi makam ibunya.

c.      Tokoh Laras merupakan pribadi yang ambisius dan tangguh, dibuktikan dengan keberhasilannya mengubah nasib dari penjahit menjadi desainer di Paris.

d.      Tokoh Laras sangat materialistis, terbukti dengan keputusannya menolak anak lurah dan memilih mencari uang di Eropa.

e.      Tokoh Laras memiliki sifat bijaksana, terlihat dari bagaimana ia menerima kenyataan pahit kematian ibunya dengan lapang dada.

100%
0%
0%
0%
0%
Переглянути це питання
Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga.

"Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.

Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.

Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam.

"Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.

Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.

Kelanjutan cerita yang paling logis berdasarkan konflik dan penokohan dalam kutipan tersebut adalah ....
0%
100%
0%
0%
0%
Переглянути це питання
Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen.

"Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.

Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.

Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya.

"Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.

Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."

Suasana yang tergambar pada keseluruhan kutipan cerita tersebut secara berurutan adalah ....
0%
100%
0%
0%
0%
Переглянути це питання
Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen.

"Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.

Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.

Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya.

"Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.

Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."

Penyebab masalah utama yang dialami Pak Darmo dalam kutipan tersebut adalah ....
100%
0%
0%
0%
0%
Переглянути це питання
Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen.

"Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.

Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.

Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya.

"Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.

Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."

Masalah utama pada kutipan cerita tersebut adalah ....
0%
0%
0%
0%
100%
Переглянути це питання
Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen.

"Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.

Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.

Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya.

"Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.

Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."

Penggambaran watak tokoh Pak Darmo pada kutipan cerita tersebut adalah ....
0%
0%
0%
100%
0%
Переглянути це питання
Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen.

"Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.

Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.

Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya.

"Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.

Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."

Kelanjutan peristiwa yang paling logis berdasarkan cerita tersebut adalah ....
0%
0%
100%
0%
0%
Переглянути це питання
Банк в правовому відношенні це:
✅
❌
❌
❌
Переглянути це питання
Статутний фонд комерційного банку формується:
✅
❌
❌
❌
Переглянути це питання