Looking for TRY OUT UTBK UI 2026 test answers and solutions? Browse our comprehensive collection of verified answers for TRY OUT UTBK UI 2026 at 103.30.247.46.
Get instant access to accurate answers and detailed explanations for your course questions. Our community-driven platform helps students succeed!
Penyakit tropika memengaruhi setengah milyar orang dan mematikan sekitar 20 juta orang setiap tahunnya. Sebagian besar penyakit ini memengaruhi penduduk yang tinggal di hutan. Keberadaan penyakit ini seringkali dipengaruhi oleh kegiatan penebangan hutan, pertambangan, pembangunan bendungan, dan kegiatan lainnya.
Terdapat beberapa penyakit tropika yang berbahaya, misalnya malaria. Malaria adalah salah satu penyakit yang berbahaya di negara tropis. Penyakit ini disebarkan oleh nyamuk. Penyebaran penyakit ini dapat dikaitkan dengan eksploitasi hutan. Kegiatan penebangan kayu, misalnya, dapat menimbulkan genangan-genangan air tempat nyamuk berkembang biak sehingga terjadi peningkatan penyakit malaria. Penyakit lain yang berkaitan erat dengan penurunan kualitas ekologi dan hilangnya hutan adalah Ebola. Penyakit Ebola disebabkan virus Ebola yang ditularkan dari luar hutan kepada penduduk yang tinggal di hutan, yang tidak memiliki ketahanan terhadap penyakit tersebut. Akan tetapi, sebaliknya, pendatang yang tinggal di hutan juga dapat terjangkit penyakit yang bersumber dari hutan. Hal ini menyebabkan peningkatan risiko kesehatan bagi kedua populasi tersebut. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pada saat hutan ditebang untuk pertanian dan peternakan, kesehatan penduduk yang hidup di hutan pada umumnya mengalami gangguan, setidaknya dalam jangka pendek.
Sebuah survei terhadap 150 jenis obat beresep yang umum digunakan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 57 persen obat-obat tersebut mengandung sedikitnya satu senyawa aktif yang didapat dari alam. Sebagian besar senyawa aktif tersebut di antaranya bisa didapatkan di hutan tropis. Obat-obatan tersebut antara lain digunakan untuk mengobati gagal jantung, malaria, kanker, dan penyakit lainnya.
Penduduk asli di hutan tropis memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang tumbuhan obat-obatan. Selain itu, di sejumlah besar wilayah, penyembuh tradisional merupakan jasa pelayanan kesehatan yang utama. Hal ini dapat dibuktikan dari kemampuan pengobatan tradisional yang makin berkembang dan tumbuhan obat-obatan dari wilayah tropis yang sering digunakan di berbagai negara di dunia. Akibatnya, permintaan terhadap tumbuhan obat-obatan terus meningkat. Hal ini menyebabkan sekitar setengah dari 20.000 jenis tumbuhan yang digunakan terancam punah.
Di lain pihak, para praktisi pelayanan kesehatan dapat belajar lebih banyak tentang kebutuhan kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di hutan dan memperluas pelayanan kesehatan ke dalam wilayah hutan. Sistem kesehatan tradisional yang dipraktikkan oleh penyembuh tradisional dapat digunakan untuk memperbaiki kesehatan masyarakat. Hal ini dapat terlaksana jika para penyembuh tradisional dan profesional kesehatan bersama-sama menggabungkan sistem pelayanan kesehatan tradisional dan modern.
Sumber: https://www.cifor.org/publications/pdf_files/infobrief/011-Infobrief-I.pdf
Berdasarkan bacaan tersebut, apa korelasi antara hutan dan penyakit tropika?
Penyakit tropika memengaruhi setengah milyar orang dan mematikan sekitar 20 juta orang setiap tahunnya. Sebagian besar penyakit ini memengaruhi penduduk yang tinggal di hutan. Keberadaan penyakit ini seringkali dipengaruhi oleh kegiatan penebangan hutan, pertambangan, pembangunan bendungan, dan kegiatan lainnya.
Terdapat beberapa penyakit tropika yang berbahaya, misalnya malaria. Malaria adalah salah satu penyakit yang berbahaya di negara tropis. Penyakit ini disebarkan oleh nyamuk. Penyebaran penyakit ini dapat dikaitkan dengan eksploitasi hutan. Kegiatan penebangan kayu, misalnya, dapat menimbulkan genangan-genangan air tempat nyamuk berkembang biak sehingga terjadi peningkatan penyakit malaria. Penyakit lain yang berkaitan erat dengan penurunan kualitas ekologi dan hilangnya hutan adalah Ebola. Penyakit Ebola disebabkan virus Ebola yang ditularkan dari luar hutan kepada penduduk yang tinggal di hutan, yang tidak memiliki ketahanan terhadap penyakit tersebut. Akan tetapi, sebaliknya, pendatang yang tinggal di hutan juga dapat terjangkit penyakit yang bersumber dari hutan. Hal ini menyebabkan peningkatan risiko kesehatan bagi kedua populasi tersebut. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pada saat hutan ditebang untuk pertanian dan peternakan, kesehatan penduduk yang hidup di hutan pada umumnya mengalami gangguan, setidaknya dalam jangka pendek.
Sebuah survei terhadap 150 jenis obat beresep yang umum digunakan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 57 persen obat-obat tersebut mengandung sedikitnya satu senyawa aktif yang didapat dari alam. Sebagian besar senyawa aktif tersebut di antaranya bisa didapatkan di hutan tropis. Obat-obatan tersebut antara lain digunakan untuk mengobati gagal jantung, malaria, kanker, dan penyakit lainnya.
Penduduk asli di hutan tropis memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang tumbuhan obat-obatan. Selain itu, di sejumlah besar wilayah, penyembuh tradisional merupakan jasa pelayanan kesehatan yang utama. Hal ini dapat dibuktikan dari kemampuan pengobatan tradisional yang makin berkembang dan tumbuhan obat-obatan dari wilayah tropis yang sering digunakan di berbagai negara di dunia. Akibatnya, permintaan terhadap tumbuhan obat-obatan terus meningkat. Hal ini menyebabkan sekitar setengah dari 20.000 jenis tumbuhan yang digunakan terancam punah.
Di lain pihak, para praktisi pelayanan kesehatan dapat belajar lebih banyak tentang kebutuhan kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di hutan dan memperluas pelayanan kesehatan ke dalam wilayah hutan. Sistem kesehatan tradisional yang dipraktikkan oleh penyembuh tradisional dapat digunakan untuk memperbaiki kesehatan masyarakat. Hal ini dapat terlaksana jika para penyembuh tradisional dan profesional kesehatan bersama-sama menggabungkan sistem pelayanan kesehatan tradisional dan modern.
Sumber: https://www.cifor.org/publications/pdf_files/infobrief/011-Infobrief-I.pdf
Hal yang dibahas pada bacaan tersebut adalah …
Salah satu strategi mewujudkan ketatapemerintahan yang baik (good governance) adalah melibatkan partisipasi masyarakat dalam setiap aktivitas penyelenggaraan pemerintahan. Demokrasi sebagai inti good governance menuntut keikutsertaan seluruh elemen masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, dari perumusan pembuatan dan penyusunan kebijakan sampai pada pelaksanaan dan pengendalian pemerintahan. Di negara demokrasi, rakyatlah yang berdaulat sehingga tepat jika partisipasi masyarakat menjadi suatu keniscayaan.
Masyarakat sebagai elemen pokok dalam sistem pemerintahan seharusnya diberi ruang untuk mengambil bagian dalam membangun sistem pemerintahan dan pembangunan. Masyarakat berpotensi besar karena dalam masyarakat tersimpan sumber daya raksasa. Dalam masyarakat terdapat energi atau kekuatan massa yang sangat besar, yaitu anggota masyarakat yang memiliki intelektualisme tinggi. Juga terdapat ahli pemikir dan implementasi pemerintahan dan pembangunan yang andal. Potensi tersebut, jika dilibatkan secara optimal dalam segala aktivitas pemerintahan, dapat lebih memperkuat spirit bagi pemerintah untuk mempercepat laju pembangunan. Sebaliknya, jika masyarakat tidak dilibatkan, negara dapat mengalami stagnasi, bahkan dapat menyebabkan munculnya kritik atas aktivitas pemerintahan sehingga menghambat jalannya pemerintahan dan pembangunan.
Kebijakan negara yang kurang atau tidak melibatkan partisipasi masyarakat sering mendapat tantangan besar dalam pelaksanaannya. Ketika sistem pemerintahan yang menganut paham demokrasi tidak melibatkan partsipasi masyarakat, akan timbul tantangan yang cukup besar. Tidak sedikit kebijakan pemerintah yang telah dibuat dengan menggunakan sumber daya yang besar. Akan tetapi, ketika kebijakan tersebut hendak diimplementasikan serta-merta mendapat respons negatif dari masyarakat, seperti tindakan destruktif. Kebijakan pemerintah yang kurang melibatkan partisipasi rakyat di masa lalu, misalnya, kebijakan menaikkan harga BBM yang mendapat perlawanan serius dari masyarakat. Dewasa ini masyarakat makin sadar bahwa mereka memiliki hak untuk ikut serta dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sehingga pemerintah seharusnya meresponsnya dengan baik.
(Sumber: https://journal.unismuh.ac.id/)
Yang dimaksud dengan “mengabaikan potensi besar yang terdapat di dalam masyarakat” adalah …
Salah satu strategi mewujudkan ketatapemerintahan yang baik (good governance) adalah melibatkan partisipasi masyarakat dalam setiap aktivitas penyelenggaraan pemerintahan. Demokrasi sebagai inti good governance menuntut keikutsertaan seluruh elemen masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, dari perumusan pembuatan dan penyusunan kebijakan sampai pada pelaksanaan dan pengendalian pemerintahan. Di negara demokrasi, rakyatlah yang berdaulat sehingga tepat jika partisipasi masyarakat menjadi suatu keniscayaan.
Masyarakat sebagai elemen pokok dalam sistem pemerintahan seharusnya diberi ruang untuk mengambil bagian dalam membangun sistem pemerintahan dan pembangunan. Masyarakat berpotensi besar karena dalam masyarakat tersimpan sumber daya raksasa. Dalam masyarakat terdapat energi atau kekuatan massa yang sangat besar, yaitu anggota masyarakat yang memiliki intelektualisme tinggi. Juga terdapat ahli pemikir dan implementasi pemerintahan dan pembangunan yang andal. Potensi tersebut, jika dilibatkan secara optimal dalam segala aktivitas pemerintahan, dapat lebih memperkuat spirit bagi pemerintah untuk mempercepat laju pembangunan. Sebaliknya, jika masyarakat tidak dilibatkan, negara dapat mengalami stagnasi, bahkan dapat menyebabkan munculnya kritik atas aktivitas pemerintahan sehingga menghambat jalannya pemerintahan dan pembangunan.
Kebijakan negara yang kurang atau tidak melibatkan partisipasi masyarakat sering mendapat tantangan besar dalam pelaksanaannya. Ketika sistem pemerintahan yang menganut paham demokrasi tidak melibatkan partsipasi masyarakat, akan timbul tantangan yang cukup besar. Tidak sedikit kebijakan pemerintah yang telah dibuat dengan menggunakan sumber daya yang besar. Akan tetapi, ketika kebijakan tersebut hendak diimplementasikan serta-merta mendapat respons negatif dari masyarakat, seperti tindakan destruktif. Kebijakan pemerintah yang kurang melibatkan partisipasi rakyat di masa lalu, misalnya, kebijakan menaikkan harga BBM yang mendapat perlawanan serius dari masyarakat. Dewasa ini masyarakat makin sadar bahwa mereka memiliki hak untuk ikut serta dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sehingga pemerintah seharusnya meresponsnya dengan baik.
(Sumber: https://journal.unismuh.ac.id/)
Bagi masyarakat, partisipasi dalam kegiatan pemerintahan merupakan ….
Salah satu strategi mewujudkan ketatapemerintahan yang baik (good governance) adalah melibatkan partisipasi masyarakat dalam setiap aktivitas penyelenggaraan pemerintahan. Demokrasi sebagai inti good governance menuntut keikutsertaan seluruh elemen masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, dari perumusan pembuatan dan penyusunan kebijakan sampai pada pelaksanaan dan pengendalian pemerintahan. Di negara demokrasi, rakyatlah yang berdaulat sehingga tepat jika partisipasi masyarakat menjadi suatu keniscayaan.
Masyarakat sebagai elemen pokok dalam sistem pemerintahan seharusnya diberi ruang untuk mengambil bagian dalam membangun sistem pemerintahan dan pembangunan. Masyarakat berpotensi besar karena dalam masyarakat tersimpan sumber daya raksasa. Dalam masyarakat terdapat energi atau kekuatan massa yang sangat besar, yaitu anggota masyarakat yang memiliki intelektualisme tinggi. Juga terdapat ahli pemikir dan implementasi pemerintahan dan pembangunan yang andal. Potensi tersebut, jika dilibatkan secara optimal dalam segala aktivitas pemerintahan, dapat lebih memperkuat spirit bagi pemerintah untuk mempercepat laju pembangunan. Sebaliknya, jika masyarakat tidak dilibatkan, negara dapat mengalami stagnasi, bahkan dapat menyebabkan munculnya kritik atas aktivitas pemerintahan sehingga menghambat jalannya pemerintahan dan pembangunan.
Kebijakan negara yang kurang atau tidak melibatkan partisipasi masyarakat sering mendapat tantangan besar dalam pelaksanaannya. Ketika sistem pemerintahan yang menganut paham demokrasi tidak melibatkan partsipasi masyarakat, akan timbul tantangan yang cukup besar. Tidak sedikit kebijakan pemerintah yang telah dibuat dengan menggunakan sumber daya yang besar. Akan tetapi, ketika kebijakan tersebut hendak diimplementasikan serta-merta mendapat respons negatif dari masyarakat, seperti tindakan destruktif. Kebijakan pemerintah yang kurang melibatkan partisipasi rakyat di masa lalu, misalnya, kebijakan menaikkan harga BBM yang mendapat perlawanan serius dari masyarakat. Dewasa ini masyarakat makin sadar bahwa mereka memiliki hak untuk ikut serta dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sehingga pemerintah seharusnya meresponsnya dengan baik.
(Sumber: https://journal.unismuh.ac.id/)
Dasar mengapa masyarakat perlu dilibatkan dalam aktivitas pemerintahan adalah ….
Sebuah hasil penelitian terbaru di jurnal Antiquity (13 Agustus 2024), mengungkapkan bahwa manusia purba Homo sapiens sudah mengunjungi Raja Ampat sekitar 55.000 tahun lalu. Studi yang dikerjakan oleh tim peneliti gabungan dari Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Indonesia ini menyingkap bahwa Raja Ampat sangat mungkin menjadi rute migrasi manusia purba dari Asia ke Australia. Menurut salah satu teori mengenai rute migrasi manusia dari Asia ke Australia, migrasi manusia tersebut melewati Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, termasuk Raja Ampat. Rute yang dikenal sebagai rute utara itu diperkuat oleh penemuan bukti jejak aktivitas manusia purba di Gua Mololo, Pulau Waigeo, Raja Ampat. Di sedimen dasar Gua Mololo tersebut, tim peneliti menemukan bukti aktivitas manusia purba seperti arang, kerang, tulang hewan, dan beberapa pecahan batu. Selain itu, ditemukan pula potongan resin berukuran 1,4 sentimeter yang bentuknya bersudut-sudut. Dari bentuknya, resin ini tampak hasil dipotong dari pohon, bukan terbentuk secara alami. Dari penanggalan radiokarbon yang dilakukan oleh tim peneliti, ditemukan bahwa resin tersebut berusia antara 50.000 hingga 55.000 tahun. Bukti ini menunjukkan bahwa manusia telah hadir di Waigeo, Raja Ampat, setidaknya 55.000 tahun yang lalu.
Fakta bahwa artefak resin itu berusia 55.000–50.000 tahun menjadikannya artefak tanaman tertua yang dibuat oleh spesies manusia di luar Afrika. Para peneliti percaya bahwa artefak tersebut diproduksi dalam proses multitahap: mulai dari memotong kulit pohon penghasil resin, membiarkannya mengeras, dan kemudian mematahkannya menjadi bentuk tertentu. Resin tersebut mungkin digunakan sebagai sumber bahan bakar api di dalam Gua Mololo.
Temuan arkeologi dari Mololo memberikan bukti pertama yang kuat, yang secara langsung telah diuji dengan radiokarbon, bahwa manusia berpindah melalui rute utara ke wilayah Pasifik sebelum 50.000 tahun yang lalu. Ini menunjukkan bahwa pulau-pulau Pasifik kecil yang ditumbuhi hutan hujan di sepanjang khatulistiwa merupakan tempat utama bagi migrasi dan adaptasi manusia.Manakah pernyataan yang paling sesuai dengan isi cuplikan artikel jurnal Antiquity di atas?
Sebuah hasil penelitian terbaru di jurnal Antiquity (13 Agustus 2024), mengungkapkan bahwa manusia purba Homo sapiens sudah mengunjungi Raja Ampat sekitar 55.000 tahun lalu. Studi yang dikerjakan oleh tim peneliti gabungan dari Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Indonesia ini menyingkap bahwa Raja Ampat sangat mungkin menjadi rute migrasi manusia purba dari Asia ke Australia. Menurut salah satu teori mengenai rute migrasi manusia dari Asia ke Australia, migrasi manusia tersebut melewati Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, termasuk Raja Ampat. Rute yang dikenal sebagai rute utara itu diperkuat oleh penemuan bukti jejak aktivitas manusia purba di Gua Mololo, Pulau Waigeo, Raja Ampat. Di sedimen dasar Gua Mololo tersebut, tim peneliti menemukan bukti aktivitas manusia purba seperti arang, kerang, tulang hewan, dan beberapa pecahan batu. Selain itu, ditemukan pula potongan resin berukuran 1,4 sentimeter yang bentuknya bersudut-sudut. Dari bentuknya, resin ini tampak hasil dipotong dari pohon, bukan terbentuk secara alami. Dari penanggalan radiokarbon yang dilakukan oleh tim peneliti, ditemukan bahwa resin tersebut berusia antara 50.000 hingga 55.000 tahun. Bukti ini menunjukkan bahwa manusia telah hadir di Waigeo, Raja Ampat, setidaknya 55.000 tahun yang lalu.
Fakta bahwa artefak resin itu berusia 55.000–50.000 tahun menjadikannya artefak tanaman tertua yang dibuat oleh spesies manusia di luar Afrika. Para peneliti percaya bahwa artefak tersebut diproduksi dalam proses multitahap: mulai dari memotong kulit pohon penghasil resin, membiarkannya mengeras, dan kemudian mematahkannya menjadi bentuk tertentu. Resin tersebut mungkin digunakan sebagai sumber bahan bakar api di dalam Gua Mololo.
Temuan arkeologi dari Mololo memberikan bukti pertama yang kuat, yang secara langsung telah diuji dengan radiokarbon, bahwa manusia berpindah melalui rute utara ke wilayah Pasifik sebelum 50.000 tahun yang lalu. Ini menunjukkan bahwa pulau-pulau Pasifik kecil yang ditumbuhi hutan hujan di sepanjang khatulistiwa merupakan tempat utama bagi migrasi dan adaptasi manusia.Apakah simpulan yang paling logis dari cuplikan artikel jurnal Antiquity di atas?
Sebuah hasil penelitian terbaru di jurnal Antiquity (13 Agustus 2024), mengungkapkan bahwa manusia purba Homo sapiens sudah mengunjungi Raja Ampat sekitar 55.000 tahun lalu. Studi yang dikerjakan oleh tim peneliti gabungan dari Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Indonesia ini menyingkap bahwa Raja Ampat sangat mungkin menjadi rute migrasi manusia purba dari Asia ke Australia. Menurut salah satu teori mengenai rute migrasi manusia dari Asia ke Australia, migrasi manusia tersebut melewati Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, termasuk Raja Ampat. Rute yang dikenal sebagai rute utara itu diperkuat oleh penemuan bukti jejak aktivitas manusia purba di Gua Mololo, Pulau Waigeo, Raja Ampat. Di sedimen dasar Gua Mololo tersebut, tim peneliti menemukan bukti aktivitas manusia purba seperti arang, kerang, tulang hewan, dan beberapa pecahan batu. Selain itu, ditemukan pula potongan resin berukuran 1,4 sentimeter yang bentuknya bersudut-sudut. Dari bentuknya, resin ini tampak hasil dipotong dari pohon, bukan terbentuk secara alami. Dari penanggalan radiokarbon yang dilakukan oleh tim peneliti, ditemukan bahwa resin tersebut berusia antara 50.000 hingga 55.000 tahun. Bukti ini menunjukkan bahwa manusia telah hadir di Waigeo, Raja Ampat, setidaknya 55.000 tahun yang lalu.
Fakta bahwa artefak resin itu berusia 55.000–50.000 tahun menjadikannya artefak tanaman tertua yang dibuat oleh spesies manusia di luar Afrika. Para peneliti percaya bahwa artefak tersebut diproduksi dalam proses multitahap: mulai dari memotong kulit pohon penghasil resin, membiarkannya mengeras, dan kemudian mematahkannya menjadi bentuk tertentu. Resin tersebut mungkin digunakan sebagai sumber bahan bakar api di dalam Gua Mololo.
Temuan arkeologi dari Mololo memberikan bukti pertama yang kuat, yang secara langsung telah diuji dengan radiokarbon, bahwa manusia berpindah melalui rute utara ke wilayah Pasifik sebelum 50.000 tahun yang lalu. Ini menunjukkan bahwa pulau-pulau Pasifik kecil yang ditumbuhi hutan hujan di sepanjang khatulistiwa merupakan tempat utama bagi migrasi dan adaptasi manusia.
Bukti yang sangat meyakinkan para ahli asal Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Indonesia tentang manusia purba Homo sapiens yang sudah mengunjungi Raja Ampat sekitar 55.000 tahun lalu adalah …
Sebuah hasil penelitian terbaru di jurnal Antiquity (13 Agustus 2024), mengungkapkan bahwa manusia purba Homo sapiens sudah mengunjungi Raja Ampat sekitar 55.000 tahun lalu. Studi yang dikerjakan oleh tim peneliti gabungan dari Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Indonesia ini menyingkap bahwa Raja Ampat sangat mungkin menjadi rute migrasi manusia purba dari Asia ke Australia. Menurut salah satu teori mengenai rute migrasi manusia dari Asia ke Australia, migrasi manusia tersebut melewati Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, termasuk Raja Ampat. Rute yang dikenal sebagai rute utara itu diperkuat oleh penemuan bukti jejak aktivitas manusia purba di Gua Mololo, Pulau Waigeo, Raja Ampat. Di sedimen dasar Gua Mololo tersebut, tim peneliti menemukan bukti aktivitas manusia purba seperti arang, kerang, tulang hewan, dan beberapa pecahan batu. Selain itu, ditemukan pula potongan resin berukuran 1,4 sentimeter yang bentuknya bersudut-sudut. Dari bentuknya, resin ini tampak hasil dipotong dari pohon, bukan terbentuk secara alami. Dari penanggalan radiokarbon yang dilakukan oleh tim peneliti, ditemukan bahwa resin tersebut berusia antara 50.000 hingga 55.000 tahun. Bukti ini menunjukkan bahwa manusia telah hadir di Waigeo, Raja Ampat, setidaknya 55.000 tahun yang lalu.
Fakta bahwa artefak resin itu berusia 55.000–50.000 tahun menjadikannya artefak tanaman tertua yang dibuat oleh spesies manusia di luar Afrika. Para peneliti percaya bahwa artefak tersebut diproduksi dalam proses multitahap: mulai dari memotong kulit pohon penghasil resin, membiarkannya mengeras, dan kemudian mematahkannya menjadi bentuk tertentu. Resin tersebut mungkin digunakan sebagai sumber bahan bakar api di dalam Gua Mololo.
Temuan arkeologi dari Mololo memberikan bukti pertama yang kuat, yang secara langsung telah diuji dengan radiokarbon, bahwa manusia berpindah melalui rute utara ke wilayah Pasifik sebelum 50.000 tahun yang lalu. Ini menunjukkan bahwa pulau-pulau Pasifik kecil yang ditumbuhi hutan hujan di sepanjang khatulistiwa merupakan tempat utama bagi migrasi dan adaptasi manusia.
Dalam bacaan di atas, beberapa ahli menemukan data-data yang cukup valid untuk menyimpulkan bahwa …
Sebuah hasil penelitian terbaru di jurnal Antiquity (13 Agustus 2024), mengungkapkan bahwa manusia purba Homo sapiens sudah mengunjungi Raja Ampat sekitar 55.000 tahun lalu. Studi yang dikerjakan oleh tim peneliti gabungan dari Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Indonesia ini menyingkap bahwa Raja Ampat sangat mungkin menjadi rute migrasi manusia purba dari Asia ke Australia. Menurut salah satu teori mengenai rute migrasi manusia dari Asia ke Australia, migrasi manusia tersebut melewati Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, termasuk Raja Ampat. Rute yang dikenal sebagai rute utara itu diperkuat oleh penemuan bukti jejak aktivitas manusia purba di Gua Mololo, Pulau Waigeo, Raja Ampat. Di sedimen dasar Gua Mololo tersebut, tim peneliti menemukan bukti aktivitas manusia purba seperti arang, kerang, tulang hewan, dan beberapa pecahan batu. Selain itu, ditemukan pula potongan resin berukuran 1,4 sentimeter yang bentuknya bersudut-sudut. Dari bentuknya, resin ini tampak hasil dipotong dari pohon, bukan terbentuk secara alami. Dari penanggalan radiokarbon yang dilakukan oleh tim peneliti, ditemukan bahwa resin tersebut berusia antara 50.000 hingga 55.000 tahun. Bukti ini menunjukkan bahwa manusia telah hadir di Waigeo, Raja Ampat, setidaknya 55.000 tahun yang lalu.
Fakta bahwa artefak resin itu berusia 55.000–50.000 tahun menjadikannya artefak tanaman tertua yang dibuat oleh spesies manusia di luar Afrika. Para peneliti percaya bahwa artefak tersebut diproduksi dalam proses multitahap: mulai dari memotong kulit pohon penghasil resin, membiarkannya mengeras, dan kemudian mematahkannya menjadi bentuk tertentu. Resin tersebut mungkin digunakan sebagai sumber bahan bakar api di dalam Gua Mololo.
Temuan arkeologi dari Mololo memberikan bukti pertama yang kuat, yang secara langsung telah diuji dengan radiokarbon, bahwa manusia berpindah melalui rute utara ke wilayah Pasifik sebelum 50.000 tahun yang lalu. Ini menunjukkan bahwa pulau-pulau Pasifik kecil yang ditumbuhi hutan hujan di sepanjang khatulistiwa merupakan tempat utama bagi migrasi dan adaptasi manusia.
Bacaan di atas menjelaskan …