logo

Crowdly

Browser

Add to Chrome

TRY OUT UTBK UI 2026

Looking for TRY OUT UTBK UI 2026 test answers and solutions? Browse our comprehensive collection of verified answers for TRY OUT UTBK UI 2026 at 103.30.247.46.

Get instant access to accurate answers and detailed explanations for your course questions. Our community-driven platform helps students succeed!

Kesehatan anak dimulai dari variasi makan yang sehat dan teratur. Hal ini berkaitan dengan pengasuhan anak. Pengasuhan anak merupakan proses yang dinamis, yang dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Faktor ini berkontribusi penting terhadap perkembangan anak. Gaya pengasuhan berpedoman dari sikap dan perilaku orang tua yang digunakan orang tua secara konsisten di seluruh konteks, yang mengatur perilaku anak mereka.

Orang tua, terutama ibu, mempunyai peran yang sangat penting dalam mengasuh anak, khususnya anak di bawah lima tahun (balita), karena anak belum mampu mengatur pola makannya sendiri. Sementara itu, pengaruh budaya setempat dan keterbatasan pengetahuan ibu menjadi kendala dalam mengasuh balita. Dalam hal ini, setiap masyarakat mempunyai aturan dalam menentukan kuantitas, kualitas, serta jenis makanan yang seharusnya dan tidak dikonsumsi.

Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, didapatkan hasil mengenai pengaruh faktor-faktor budaya terhadap kesehatan anak di Indonesia. Faktor yang pertama adalah persepsi dalam pemberian air susu ibu (ASI). Masyarakat di Indonesia melihat bahwa pandangan budaya tercermin di dalam perilaku yang berkaitan dalam pola pemberian makanan pada bayi. Bagi masyarakat, umumnya, pemberian ASI  bukan merupakan masalah besar. Yang menjadi masalah adalah pola pemberiannya yang tidak sesuai dengan konsep medis sehingga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan kesehatan bayi.

Selain itu, pemberian susu formula juga merupakan faktor budaya yang berpengaruh terhadap kesehatan anak di Indonesia. Di Indonesia, pemberian ASI dini dan ASI eksklusif menunjukkan tren yang meningkat. Namun, penggunaan susu formula juga meningkat pesat. Data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang luar biasa dalam penggunaan susu formula. Hal ini bertentangan dengan program pemerintah, yaitu untuk meminimalkan prevalensi pemberian makanan bayi jenis ini.

Faktor lain selain budaya adalah faktor sosial ekonomi. Beberapa faktor, seperti kemiskinan, akses terhadap layanan kesehatan yang kurang, akses terhadap pendidikan yang kurang, stigma, rasisme, dan bias gender, diidentifikasi sebagai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketidaksetaraan kesehatan. Faktor sosial ekonomi keluarga dapat dilihat  melalui jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, dan pendapatan keluarga, yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan angka kematian bayi serta balita. Sumber:https://mahakarya.academy/artikel/Variasi-Faktor-Budaya-Yang-Mempengaruhi-Kesehatan-Anak-Di-Indonesia

Manakah kalimat simpulan yang tepat untuk bacaan tersebut?

0%
0%
0%
0%
0%
View this question

Kesehatan anak dimulai dari variasi makan yang sehat dan teratur. Hal ini berkaitan dengan pengasuhan anak. Pengasuhan anak merupakan proses yang dinamis, yang dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Faktor ini berkontribusi penting terhadap perkembangan anak. Gaya pengasuhan berpedoman dari sikap dan perilaku orang tua yang digunakan orang tua secara konsisten di seluruh konteks, yang mengatur perilaku anak mereka.

Orang tua, terutama ibu, mempunyai peran yang sangat penting dalam mengasuh anak, khususnya anak di bawah lima tahun (balita), karena anak belum mampu mengatur pola makannya sendiri. Sementara itu, pengaruh budaya setempat dan keterbatasan pengetahuan ibu menjadi kendala dalam mengasuh balita. Dalam hal ini, setiap masyarakat mempunyai aturan dalam menentukan kuantitas, kualitas, serta jenis makanan yang seharusnya dan tidak dikonsumsi.

Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, didapatkan hasil mengenai pengaruh faktor-faktor budaya terhadap kesehatan anak di Indonesia. Faktor yang pertama adalah persepsi dalam pemberian air susu ibu (ASI). Masyarakat di Indonesia melihat bahwa pandangan budaya tercermin di dalam perilaku yang berkaitan dalam pola pemberian makanan pada bayi. Bagi masyarakat, umumnya, pemberian ASI  bukan merupakan masalah besar. Yang menjadi masalah adalah pola pemberiannya yang tidak sesuai dengan konsep medis sehingga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan kesehatan bayi.

Selain itu, pemberian susu formula juga merupakan faktor budaya yang berpengaruh terhadap kesehatan anak di Indonesia. Di Indonesia, pemberian ASI dini dan ASI eksklusif menunjukkan tren yang meningkat. Namun, penggunaan susu formula juga meningkat pesat. Data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang luar biasa dalam penggunaan susu formula. Hal ini bertentangan dengan program pemerintah, yaitu untuk meminimalkan prevalensi pemberian makanan bayi jenis ini.

Faktor lain selain budaya adalah faktor sosial ekonomi. Beberapa faktor, seperti kemiskinan, akses terhadap layanan kesehatan yang kurang, akses terhadap pendidikan yang kurang, stigma, rasisme, dan bias gender, diidentifikasi sebagai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketidaksetaraan kesehatan. Faktor sosial ekonomi keluarga dapat dilihat  melalui jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, dan pendapatan keluarga, yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan angka kematian bayi serta balita. Sumber:https://mahakarya.academy/artikel/Variasi-Faktor-Budaya-Yang-Mempengaruhi-Kesehatan-Anak-Di-Indonesia

Pernyataan manakah yang sesuai dengan bacaan tersebut?

0%
50%
50%
0%
0%
View this question

Kesehatan anak dimulai dari variasi makan yang sehat dan teratur. Hal ini berkaitan dengan pengasuhan anak. Pengasuhan anak merupakan proses yang dinamis, yang dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Faktor ini berkontribusi penting terhadap perkembangan anak. Gaya pengasuhan berpedoman dari sikap dan perilaku orang tua yang digunakan orang tua secara konsisten di seluruh konteks, yang mengatur perilaku anak mereka.

Orang tua, terutama ibu, mempunyai peran yang sangat penting dalam mengasuh anak, khususnya anak di bawah lima tahun (balita), karena anak belum mampu mengatur pola makannya sendiri. Sementara itu, pengaruh budaya setempat dan keterbatasan pengetahuan ibu menjadi kendala dalam mengasuh balita. Dalam hal ini, setiap masyarakat mempunyai aturan dalam menentukan kuantitas, kualitas, serta jenis makanan yang seharusnya dan tidak dikonsumsi.

Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, didapatkan hasil mengenai pengaruh faktor-faktor budaya terhadap kesehatan anak di Indonesia. Faktor yang pertama adalah persepsi dalam pemberian air susu ibu (ASI). Masyarakat di Indonesia melihat bahwa pandangan budaya tercermin di dalam perilaku yang berkaitan dalam pola pemberian makanan pada bayi. Bagi masyarakat, umumnya, pemberian ASI  bukan merupakan masalah besar. Yang menjadi masalah adalah pola pemberiannya yang tidak sesuai dengan konsep medis sehingga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan kesehatan bayi.

Selain itu, pemberian susu formula juga merupakan faktor budaya yang berpengaruh terhadap kesehatan anak di Indonesia. Di Indonesia, pemberian ASI dini dan ASI eksklusif menunjukkan tren yang meningkat. Namun, penggunaan susu formula juga meningkat pesat. Data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang luar biasa dalam penggunaan susu formula. Hal ini bertentangan dengan program pemerintah, yaitu untuk meminimalkan prevalensi pemberian makanan bayi jenis ini.

Faktor lain selain budaya adalah faktor sosial ekonomi. Beberapa faktor, seperti kemiskinan, akses terhadap layanan kesehatan yang kurang, akses terhadap pendidikan yang kurang, stigma, rasisme, dan bias gender, diidentifikasi sebagai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketidaksetaraan kesehatan. Faktor sosial ekonomi keluarga dapat dilihat  melalui jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, dan pendapatan keluarga, yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan angka kematian bayi serta balita. Sumber:https://mahakarya.academy/artikel/Variasi-Faktor-Budaya-Yang-Mempengaruhi-Kesehatan-Anak-Di-Indonesia

Berdasarkan bacaan tersebut, apa kaitan antara pengasuhan anak dengan kesehatan anak?

50%
0%
0%
50%
0%
View this question

Kesehatan anak dimulai dari variasi makan yang sehat dan teratur. Hal ini berkaitan dengan pengasuhan anak. Pengasuhan anak merupakan proses yang dinamis, yang dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Faktor ini berkontribusi penting terhadap perkembangan anak. Gaya pengasuhan berpedoman dari sikap dan perilaku orang tua yang digunakan orang tua secara konsisten di seluruh konteks, yang mengatur perilaku anak mereka.

Orang tua, terutama ibu, mempunyai peran yang sangat penting dalam mengasuh anak, khususnya anak di bawah lima tahun (balita), karena anak belum mampu mengatur pola makannya sendiri. Sementara itu, pengaruh budaya setempat dan keterbatasan pengetahuan ibu menjadi kendala dalam mengasuh balita. Dalam hal ini, setiap masyarakat mempunyai aturan dalam menentukan kuantitas, kualitas, serta jenis makanan yang seharusnya dan tidak dikonsumsi.

Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, didapatkan hasil mengenai pengaruh faktor-faktor budaya terhadap kesehatan anak di Indonesia. Faktor yang pertama adalah persepsi dalam pemberian air susu ibu (ASI). Masyarakat di Indonesia melihat bahwa pandangan budaya tercermin di dalam perilaku yang berkaitan dalam pola pemberian makanan pada bayi. Bagi masyarakat, umumnya, pemberian ASI  bukan merupakan masalah besar. Yang menjadi masalah adalah pola pemberiannya yang tidak sesuai dengan konsep medis sehingga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan kesehatan bayi.

Selain itu, pemberian susu formula juga merupakan faktor budaya yang berpengaruh terhadap kesehatan anak di Indonesia. Di Indonesia, pemberian ASI dini dan ASI eksklusif menunjukkan tren yang meningkat. Namun, penggunaan susu formula juga meningkat pesat. Data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang luar biasa dalam penggunaan susu formula. Hal ini bertentangan dengan program pemerintah, yaitu untuk meminimalkan prevalensi pemberian makanan bayi jenis ini.

Faktor lain selain budaya adalah faktor sosial ekonomi. Beberapa faktor, seperti kemiskinan, akses terhadap layanan kesehatan yang kurang, akses terhadap pendidikan yang kurang, stigma, rasisme, dan bias gender, diidentifikasi sebagai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketidaksetaraan kesehatan. Faktor sosial ekonomi keluarga dapat dilihat  melalui jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, dan pendapatan keluarga, yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan angka kematian bayi serta balita. Sumber:https://mahakarya.academy/artikel/Variasi-Faktor-Budaya-Yang-Mempengaruhi-Kesehatan-Anak-Di-Indonesia

 

Bacaan tersebut membahas permasalahan berkaitan dengan …

0%
0%
0%
0%
0%
View this question

Kasus kekerasan dalam dunia pendidikan masih memprihatinkan. Terjadi lonjakan kasus kekerasan di sekolah, bahkan pada Januari--Juli 2024 ada 36 kasus dan pada bulan September 2024 saja terjadi 12 kasus. Kasus-kasus tersebut tentu tidak lepas dari permasalahan yang sering dihadapi guru di dalam kelas maupun lingkungan sekolah yang belum ada pemecahannya. Salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh guru adalah bagaimana mengendalikan peserta didik ketika terjadi kegaduhan di kelas dan kesulitan membangkitkan motivasi anak untuk belajar. Guru kerap dibuat frustasi oleh peserta didiknya yang susah diatur, susah untuk diam, dan sulit mengikuti pembelajaran atau sulit diarahkan untuk disiplin.

Permasalahan tersebut diperparah manakala guru sedang stres, baik karena masalah pekerjaan yang berlebihan maupun karena persoalan pribadi di rumah tangganya. Situasi semacam itu dapat menyulut amarah dan menjadi pemicu perilaku nakal siswanya. Ketidakmampuan seorang guru mengendalikan amarah memicu timbulnya masalah kekerasan di sekolah. Akan tetapi, apa pun alasannya, melakukan tindakan kekerasan terhadap anak didik memang tidak bisa dibenarkan. Menghadapi kenyataan seperti ini, sungguh dilematis menjadi seorang guru. Di satu sisi guru ingin mengabdi dan mendidik anak, di sisi lain risikonya besar bila tidak berhati-hati.

 

Seorang guru perlu memahami apa yang diinginkan oleh siswa. Guru harus terlebih dulu mendiagnosis kebutuhan anak untuk belajar. Oleh karena itu, guru harus selalu meningkatkan kemampuan interpersonal sehingga mampu memahami anak secara lebih mendalam. Selain itu, guru juga harus mengetahui tingkat perkembangan anak, utamanya anak sekolah menengah pertama.

 

Masa puber adalah masa persiapan seorang remaja akan memasuki dunia baru, yaitu masyarakat yang kompleks. Sayangnya, guru dan orang tua sering tidak peduli dengan masa transisi itu. Kebanyakan orang beranggapan bahwa masa puber akan berjalan normal begitu saja. Padahal, pada masa puber ada banyak perubahan hormonal, neurologi, dan fisik pada anak. Perubahan itu menyebabkan mood anak tidak stabil, anak lebih agresif, suka memberontak, lebih peka terhadap rangsangan, dan suka meniru. Keadaan semacam itu menimbulkan permasalahan serius jika orangtua dan guru tidak mampu menciptakan lingkungan yang kondusif.

 

Kalimat yang paling tepat sebagai simpulan bacaan di atas adalah …

0%
0%
0%
50%
50%
View this question

Kasus kekerasan dalam dunia pendidikan masih memprihatinkan. Terjadi lonjakan kasus kekerasan di sekolah, bahkan pada Januari--Juli 2024 ada 36 kasus dan pada bulan September 2024 saja terjadi 12 kasus. Kasus-kasus tersebut tentu tidak lepas dari permasalahan yang sering dihadapi guru di dalam kelas maupun lingkungan sekolah yang belum ada pemecahannya. Salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh guru adalah bagaimana mengendalikan peserta didik ketika terjadi kegaduhan di kelas dan kesulitan membangkitkan motivasi anak untuk belajar. Guru kerap dibuat frustasi oleh peserta didiknya yang susah diatur, susah untuk diam, dan sulit mengikuti pembelajaran atau sulit diarahkan untuk disiplin.

Permasalahan tersebut diperparah manakala guru sedang stres, baik karena masalah pekerjaan yang berlebihan maupun karena persoalan pribadi di rumah tangganya. Situasi semacam itu dapat menyulut amarah dan menjadi pemicu perilaku nakal siswanya. Ketidakmampuan seorang guru mengendalikan amarah memicu timbulnya masalah kekerasan di sekolah. Akan tetapi, apa pun alasannya, melakukan tindakan kekerasan terhadap anak didik memang tidak bisa dibenarkan. Menghadapi kenyataan seperti ini, sungguh dilematis menjadi seorang guru. Di satu sisi guru ingin mengabdi dan mendidik anak, di sisi lain risikonya besar bila tidak berhati-hati.

 

Seorang guru perlu memahami apa yang diinginkan oleh siswa. Guru harus terlebih dulu mendiagnosis kebutuhan anak untuk belajar. Oleh karena itu, guru harus selalu meningkatkan kemampuan interpersonal sehingga mampu memahami anak secara lebih mendalam. Selain itu, guru juga harus mengetahui tingkat perkembangan anak, utamanya anak sekolah menengah pertama.

 

Masa puber adalah masa persiapan seorang remaja akan memasuki dunia baru, yaitu masyarakat yang kompleks. Sayangnya, guru dan orang tua sering tidak peduli dengan masa transisi itu. Kebanyakan orang beranggapan bahwa masa puber akan berjalan normal begitu saja. Padahal, pada masa puber ada banyak perubahan hormonal, neurologi, dan fisik pada anak. Perubahan itu menyebabkan mood anak tidak stabil, anak lebih agresif, suka memberontak, lebih peka terhadap rangsangan, dan suka meniru. Keadaan semacam itu menimbulkan permasalahan serius jika orangtua dan guru tidak mampu menciptakan lingkungan yang kondusif.

 

Jika diringkas dan dipadatkan, apa sebenarnya yang terjadi pada masa puber seorang remaja?

50%
0%
50%
0%
0%
View this question

Kasus kekerasan dalam dunia pendidikan masih memprihatinkan. Terjadi lonjakan kasus kekerasan di sekolah, bahkan pada Januari--Juli 2024 ada 36 kasus dan pada bulan September 2024 saja terjadi 12 kasus. Kasus-kasus tersebut tentu tidak lepas dari permasalahan yang sering dihadapi guru di dalam kelas maupun lingkungan sekolah yang belum ada pemecahannya. Salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh guru adalah bagaimana mengendalikan peserta didik ketika terjadi kegaduhan di kelas dan kesulitan membangkitkan motivasi anak untuk belajar. Guru kerap dibuat frustasi oleh peserta didiknya yang susah diatur, susah untuk diam, dan sulit mengikuti pembelajaran atau sulit diarahkan untuk disiplin.

Permasalahan tersebut diperparah manakala guru sedang stres, baik karena masalah pekerjaan yang berlebihan maupun karena persoalan pribadi di rumah tangganya. Situasi semacam itu dapat menyulut amarah dan menjadi pemicu perilaku nakal siswanya. Ketidakmampuan seorang guru mengendalikan amarah memicu timbulnya masalah kekerasan di sekolah. Akan tetapi, apa pun alasannya, melakukan tindakan kekerasan terhadap anak didik memang tidak bisa dibenarkan. Menghadapi kenyataan seperti ini, sungguh dilematis menjadi seorang guru. Di satu sisi guru ingin mengabdi dan mendidik anak, di sisi lain risikonya besar bila tidak berhati-hati.

 

Seorang guru perlu memahami apa yang diinginkan oleh siswa. Guru harus terlebih dulu mendiagnosis kebutuhan anak untuk belajar. Oleh karena itu, guru harus selalu meningkatkan kemampuan interpersonal sehingga mampu memahami anak secara lebih mendalam. Selain itu, guru juga harus mengetahui tingkat perkembangan anak, utamanya anak sekolah menengah pertama.

 

Masa puber adalah masa persiapan seorang remaja akan memasuki dunia baru, yaitu masyarakat yang kompleks. Sayangnya, guru dan orang tua sering tidak peduli dengan masa transisi itu. Kebanyakan orang beranggapan bahwa masa puber akan berjalan normal begitu saja. Padahal, pada masa puber ada banyak perubahan hormonal, neurologi, dan fisik pada anak. Perubahan itu menyebabkan mood anak tidak stabil, anak lebih agresif, suka memberontak, lebih peka terhadap rangsangan, dan suka meniru. Keadaan semacam itu menimbulkan permasalahan serius jika orangtua dan guru tidak mampu menciptakan lingkungan yang kondusif.

 

Menurut bacaan di atas, sikap seharusnya seorang guru dalam menghadapi siswa yang sedang mengalami tahap transisi adalah ….

0%
50%
0%
0%
50%
View this question

Kasus kekerasan dalam dunia pendidikan masih memprihatinkan. Terjadi lonjakan kasus kekerasan di sekolah, bahkan pada Januari--Juli 2024 ada 36 kasus dan pada bulan September 2024 saja terjadi 12 kasus. Kasus-kasus tersebut tentu tidak lepas dari permasalahan yang sering dihadapi guru di dalam kelas maupun lingkungan sekolah yang belum ada pemecahannya. Salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh guru adalah bagaimana mengendalikan peserta didik ketika terjadi kegaduhan di kelas dan kesulitan membangkitkan motivasi anak untuk belajar. Guru kerap dibuat frustasi oleh peserta didiknya yang susah diatur, susah untuk diam, dan sulit mengikuti pembelajaran atau sulit diarahkan untuk disiplin.

Permasalahan tersebut diperparah manakala guru sedang stres, baik karena masalah pekerjaan yang berlebihan maupun karena persoalan pribadi di rumah tangganya. Situasi semacam itu dapat menyulut amarah dan menjadi pemicu perilaku nakal siswanya. Ketidakmampuan seorang guru mengendalikan amarah memicu timbulnya masalah kekerasan di sekolah. Akan tetapi, apa pun alasannya, melakukan tindakan kekerasan terhadap anak didik memang tidak bisa dibenarkan. Menghadapi kenyataan seperti ini, sungguh dilematis menjadi seorang guru. Di satu sisi guru ingin mengabdi dan mendidik anak, di sisi lain risikonya besar bila tidak berhati-hati.

 

Seorang guru perlu memahami apa yang diinginkan oleh siswa. Guru harus terlebih dulu mendiagnosis kebutuhan anak untuk belajar. Oleh karena itu, guru harus selalu meningkatkan kemampuan interpersonal sehingga mampu memahami anak secara lebih mendalam. Selain itu, guru juga harus mengetahui tingkat perkembangan anak, utamanya anak sekolah menengah pertama.

 

Masa puber adalah masa persiapan seorang remaja akan memasuki dunia baru, yaitu masyarakat yang kompleks. Sayangnya, guru dan orang tua sering tidak peduli dengan masa transisi itu. Kebanyakan orang beranggapan bahwa masa puber akan berjalan normal begitu saja. Padahal, pada masa puber ada banyak perubahan hormonal, neurologi, dan fisik pada anak. Perubahan itu menyebabkan mood anak tidak stabil, anak lebih agresif, suka memberontak, lebih peka terhadap rangsangan, dan suka meniru. Keadaan semacam itu menimbulkan permasalahan serius jika orangtua dan guru tidak mampu menciptakan lingkungan yang kondusif.

 

Dari empat paragraf dalam bacaan di atas, paragraf ketiga berisi …

0%
0%
0%
50%
50%
View this question

Penyakit tropika memengaruhi setengah milyar orang dan mematikan sekitar 20 juta orang setiap tahunnya. Sebagian besar penyakit ini memengaruhi penduduk yang tinggal di hutan. Keberadaan penyakit ini seringkali dipengaruhi oleh kegiatan penebangan hutan, pertambangan, pembangunan bendungan, dan kegiatan lainnya.

 

Terdapat beberapa penyakit tropika yang berbahaya, misalnya malaria. Malaria adalah salah satu penyakit yang berbahaya di negara tropis. Penyakit ini disebarkan oleh nyamuk. Penyebaran penyakit ini dapat dikaitkan dengan eksploitasi hutan. Kegiatan penebangan kayu, misalnya, dapat menimbulkan genangan-genangan air tempat nyamuk berkembang biak sehingga terjadi peningkatan penyakit malaria. Penyakit lain yang berkaitan erat dengan penurunan kualitas ekologi dan hilangnya hutan adalah Ebola. Penyakit Ebola disebabkan virus Ebola yang ditularkan dari luar hutan kepada penduduk yang tinggal di hutan, yang tidak memiliki ketahanan terhadap penyakit tersebut. Akan tetapi, sebaliknya, pendatang yang tinggal di hutan juga dapat terjangkit penyakit yang bersumber dari hutan. Hal ini menyebabkan peningkatan risiko kesehatan bagi kedua populasi tersebut. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pada saat hutan ditebang untuk pertanian dan peternakan, kesehatan penduduk yang hidup di hutan pada umumnya mengalami gangguan, setidaknya dalam jangka pendek.

 

Sebuah survei terhadap 150 jenis obat beresep yang umum digunakan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 57 persen obat-obat tersebut mengandung sedikitnya satu senyawa aktif yang didapat dari alam. Sebagian besar senyawa aktif tersebut di antaranya bisa didapatkan di hutan tropis. Obat-obatan tersebut antara lain digunakan untuk mengobati gagal jantung, malaria, kanker, dan penyakit lainnya.

 

Penduduk asli di hutan tropis memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang tumbuhan obat-obatan. Selain itu, di sejumlah besar wilayah, penyembuh tradisional merupakan jasa pelayanan kesehatan yang utama. Hal ini dapat dibuktikan dari kemampuan pengobatan tradisional yang makin berkembang dan tumbuhan obat-obatan dari wilayah tropis yang sering digunakan di berbagai negara di dunia. Akibatnya, permintaan terhadap tumbuhan obat-obatan terus meningkat. Hal ini menyebabkan sekitar setengah dari 20.000 jenis tumbuhan yang digunakan terancam punah.

 

Di lain pihak, para praktisi pelayanan kesehatan dapat belajar lebih banyak tentang kebutuhan kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di hutan dan memperluas pelayanan kesehatan ke dalam wilayah hutan. Sistem kesehatan tradisional yang dipraktikkan oleh penyembuh tradisional dapat digunakan untuk memperbaiki kesehatan masyarakat. Hal ini dapat terlaksana jika para penyembuh tradisional dan profesional kesehatan bersama-sama menggabungkan sistem pelayanan kesehatan tradisional dan modern. Sumber: https://www.cifor.org/publications/pdf_files/infobrief/011-Infobrief-I.pdf

 

Manakah kalimat yang tepat untuk diletakkan pada paragraf terakhir bacaan tersebut?

0%
50%
0%
0%
50%
View this question

Penyakit tropika memengaruhi setengah milyar orang dan mematikan sekitar 20 juta orang setiap tahunnya. Sebagian besar penyakit ini memengaruhi penduduk yang tinggal di hutan. Keberadaan penyakit ini seringkali dipengaruhi oleh kegiatan penebangan hutan, pertambangan, pembangunan bendungan, dan kegiatan lainnya.

 

Terdapat beberapa penyakit tropika yang berbahaya, misalnya malaria. Malaria adalah salah satu penyakit yang berbahaya di negara tropis. Penyakit ini disebarkan oleh nyamuk. Penyebaran penyakit ini dapat dikaitkan dengan eksploitasi hutan. Kegiatan penebangan kayu, misalnya, dapat menimbulkan genangan-genangan air tempat nyamuk berkembang biak sehingga terjadi peningkatan penyakit malaria. Penyakit lain yang berkaitan erat dengan penurunan kualitas ekologi dan hilangnya hutan adalah Ebola. Penyakit Ebola disebabkan virus Ebola yang ditularkan dari luar hutan kepada penduduk yang tinggal di hutan, yang tidak memiliki ketahanan terhadap penyakit tersebut. Akan tetapi, sebaliknya, pendatang yang tinggal di hutan juga dapat terjangkit penyakit yang bersumber dari hutan. Hal ini menyebabkan peningkatan risiko kesehatan bagi kedua populasi tersebut. Bukti-bukti menunjukkan bahwa pada saat hutan ditebang untuk pertanian dan peternakan, kesehatan penduduk yang hidup di hutan pada umumnya mengalami gangguan, setidaknya dalam jangka pendek.

 

Sebuah survei terhadap 150 jenis obat beresep yang umum digunakan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 57 persen obat-obat tersebut mengandung sedikitnya satu senyawa aktif yang didapat dari alam. Sebagian besar senyawa aktif tersebut di antaranya bisa didapatkan di hutan tropis. Obat-obatan tersebut antara lain digunakan untuk mengobati gagal jantung, malaria, kanker, dan penyakit lainnya.

 

Penduduk asli di hutan tropis memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang tumbuhan obat-obatan. Selain itu, di sejumlah besar wilayah, penyembuh tradisional merupakan jasa pelayanan kesehatan yang utama. Hal ini dapat dibuktikan dari kemampuan pengobatan tradisional yang makin berkembang dan tumbuhan obat-obatan dari wilayah tropis yang sering digunakan di berbagai negara di dunia. Akibatnya, permintaan terhadap tumbuhan obat-obatan terus meningkat. Hal ini menyebabkan sekitar setengah dari 20.000 jenis tumbuhan yang digunakan terancam punah.

 

Di lain pihak, para praktisi pelayanan kesehatan dapat belajar lebih banyak tentang kebutuhan kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di hutan dan memperluas pelayanan kesehatan ke dalam wilayah hutan. Sistem kesehatan tradisional yang dipraktikkan oleh penyembuh tradisional dapat digunakan untuk memperbaiki kesehatan masyarakat. Hal ini dapat terlaksana jika para penyembuh tradisional dan profesional kesehatan bersama-sama menggabungkan sistem pelayanan kesehatan tradisional dan modern.

 

Sumber: https://www.cifor.org/publications/pdf_files/infobrief/011-Infobrief-I.pdf

Penggunaan tumbuhan obat-obatan dari wilayah tropis di berbagai negara di dunia membuktikan bahwa ….

0%
0%
0%
100%
0%
View this question

Want instant access to all verified answers on 103.30.247.46?

Get Unlimited Answers To Exam Questions - Install Crowdly Extension Now!

Browser

Add to Chrome