logo

Crowdly

Browser

Add to Chrome

Course 21

Looking for Course 21 test answers and solutions? Browse our comprehensive collection of verified answers for Course 21 at moodle.ignatiusglobal.sch.id.

Get instant access to accurate answers and detailed explanations for your course questions. Our community-driven platform helps students succeed!

Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga.

"Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.

Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.

Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam.

"Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.

Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.

Masalah utama yang dihadapi tokoh Laras dalam kutipan cerita tersebut adalah ....
0%
0%
0%
100%
0%
View this question
Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga.

"Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.

Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.

Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam.

"Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.

Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.

Penyebab masalah utama pada cerita di atas adalah ....
0%
0%
100%
0%
0%
View this question
Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga.

"Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.

Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.

Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam.

"Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.

Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.

Berdasarkan kutipan cerita tersebut, manakah pernyataan yang paling tepat mengenai penggambaran watak tokoh Laras? (Pilihlah dua jawaban yang benar!)

a.      Tokoh Laras memiliki watak pendendam dan angkuh, terlihat dari niat kepulangannya untuk sekadar memamerkan kesuksesan.

b.      Tokoh Laras adalah sosok yang sangat pemaaf, terbukti dari keputusannya untuk langsung mengunjungi makam ibunya.

c.      Tokoh Laras merupakan pribadi yang ambisius dan tangguh, dibuktikan dengan keberhasilannya mengubah nasib dari penjahit menjadi desainer di Paris.

d.      Tokoh Laras sangat materialistis, terbukti dengan keputusannya menolak anak lurah dan memilih mencari uang di Eropa.

e.      Tokoh Laras memiliki sifat bijaksana, terlihat dari bagaimana ia menerima kenyataan pahit kematian ibunya dengan lapang dada.

100%
0%
0%
0%
0%
View this question
Gemuruh pesawat yang mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta membangunkanku dari lamunan panjang. Setelah dua belas tahun, kaki ini akhirnya kembali menginjak tanah kelahiranku. Dulu, aku pergi dengan sumpah serapah, membawa koper berisi baju seadanya dan hati yang hancur. Ibu memaksaku menikahi anak lurah yang bahkan tak pernah kuajak bicara, semata-mata demi melunasi utang keluarga.

"Kau tak akan pernah sukses tanpa restuku, Laras!" jerit Ibu malam itu, suaranya bersaing dengan deru kereta yang membawaku lari ke Jakarta.

Restu? Bukankah restu tak akan pernah membayar sewa rumah atau mewujudkan mimpiku? Dari penjahit konveksi di pinggiran Jakarta, aku berjuang hingga mendapat beasiswa tata busana di Paris. Kini, aku pulang membawa predikat desainer muda yang karyanya mejeng di majalah mode Eropa. Aku ingin mengetuk pintu rumah reyot itu, menunjukkan gaun sutra yang kupakai, dan melihat wajah Ibu saat menyadari bahwa anak perempuannya yang keras kepala ini berhasil membuktikan bahwa ucapannya salah. Aku menang.

Namun, taksi yang kutumpangi tidak berhenti di depan rumah bercat kusam itu, melainkan di depan gapura pemakaman desa atas arahan Bulek Sri yang menjemputku. Langkahku gontai melewati nisan-nisan berlumut. Di bawah pohon kamboja, seonggok gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Ibu menyambutku dalam diam.

"Ibumu sakit-sakitan sejak kau pergi, Nduk. Tapi ia tak pernah mau dijodohkan dengan anak lurah itu. Utang keluarga dilunasinya dengan menjual sawah warisan bapakmu, agar kelak kau bebas memilih jalan hidupmu," bisik Bulek Sri.

Angin sore menampar wajahku lebih keras dari jeritan Ibu dua belas tahun lalu. Gaun sutra mahal yang kupakai tiba-tiba terasa seperti kain kafan yang mencekik leherku. Aku berlutut di tanah merah, menangisi kemenangan yang ternyata adalah kekalahan terbesarku.

Kelanjutan cerita yang paling logis berdasarkan konflik dan penokohan dalam kutipan tersebut adalah ....
0%
100%
0%
0%
0%
View this question
Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen.

"Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.

Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.

Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya.

"Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.

Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."

Suasana yang tergambar pada keseluruhan kutipan cerita tersebut secara berurutan adalah ....
0%
100%
0%
0%
0%
View this question
Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen.

"Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.

Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.

Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya.

"Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.

Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."

Penyebab masalah utama yang dialami Pak Darmo dalam kutipan tersebut adalah ....
100%
0%
0%
0%
0%
View this question
Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen.

"Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.

Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.

Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya.

"Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.

Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."

Masalah utama pada kutipan cerita tersebut adalah ....
0%
0%
0%
0%
100%
View this question
Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen.

"Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.

Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.

Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya.

"Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.

Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."

Penggambaran watak tokoh Pak Darmo pada kutipan cerita tersebut adalah ....
0%
0%
0%
100%
0%
View this question
Aroma kayu tua dan pelumas jam menyambutku saat melangkah masuk ke kios sempit di sudut Pasar Beringharjo. Di balik etalase kaca yang kusam, Pak Darmo duduk membungkuk, kaca pembesar menempel di mata kanannya, tangannya yang keriput dengan cekatan memasang gir sekecil biji wijen.

"Masih sibuk dengan jam-jam mati ini, Pak?" sapaku sambil meletakkan segelas teh hangat di mejanya.

Ia menoleh sejenak, tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada roda gigi di tangannya. "Waktu yang terhenti harus dijalankan lagi, Nak. Kalau dibiarkan mati, orang akan lupa bahwa hidup terus berjalan," gumamnya.

Aku terdiam. Warga pasar tahu belaka kisah Pak Darmo. Lima belas tahun lalu, ia adalah teknisi jam tangan mewah yang sangat sibuk. Saking sibuknya, ia mengabaikan telepon dari istrinya saat putri semata wayangnya, Rini, dilarikan ke rumah sakit karena demam berdarah. Saat Pak Darmo tiba di ruang gawat darurat setelah menyelesaikan perbaikan jam rolex pelanggannya, Rini telah tiada. Sejak hari itu, ia meninggalkan toko mewahnya, menyewa kios reyot ini, dan memperbaiki jam-jam rusak milik siapa saja tanpa memungut biaya sepeser pun.

"Terkadang Bapak berpikir," suaranya memecah keheningan, terdengar parau dan bergetar, "andai saja Bapak bisa memutar balik jarum jam kehidupan seperti memutar kenop jam mekanik ini. Mungkin Rini sekarang sudah kuliah." Pak Darmo meletakkan pinsetnya. Ia menatap kosong ke deretan jam dinding yang berdetak seolah mengejek penyesalannya.

"Semuanya sudah terjadi, Pak. Menyiksa diri di tempat ini puluhan tahun tidak akan menghidupkan Rini kembali," balasku pelan.

Ia tersenyum getir, mengusap debu di kaca etalasenya. "Bapak tidak sedang menyiksa diri, Nak. Bapak sedang membayar utang waktu yang dulu Bapak curi dari keluarga Bapak sendiri."

Kelanjutan peristiwa yang paling logis berdasarkan cerita tersebut adalah ....
0%
0%
100%
0%
0%
View this question

Suasana hutan yang tadinya damai tentram, seketika menjadi neraka bagi semua hewan. Asap hitam pekat yang mulai menyelimuti seluruh hutan ini. Suhu udara mulai panas, membuat para hewan makin berteriak nyaring.

       Bora panik bukan main. Sambil mengikuti langkah Pipin, matanya bergerak ke sana-ke mari, mencari sosok ibunya.

       "Pipin! Di mana ibuku?" tanya Bora.

       "I-ibu … ibumu …." Pipin tidak bisa menjawab karena sama-sama tidak tahu di mana ibu Bora berada.

       "Aku harus kembali ke sarang!" Bora melepaskan belalainya dari belalai Pipin, lalu berbalik untuk kembali ke sarangnya.

       Namun, sebelum Bora melancarkan niatnya itu, Pipin sudah menarik kembali belalainya. "Ibumu pasti sudah berada di depan. Bersama gajah dewasa lainnya."

       Bora menghiraukan ucapan Pipin, lalu kembali meloloskan belalainya dan berlari sekuat mungkin menuju sarangnya.

       "Bora!" Pipin berteriak di belakangnya.

       Bora sampai di dekat sarangnya berada dengan napas terengah. Ia langsung membelalakkan mata begitu melihat sosok ibunya sedang bersusah payah keluar dari sarang. Api sudah menjalar di setiap pohon di dekat sarangnya itu.

       "Ibu!" teriak Bora sekuat tenaga.

       "Sedang apa kamu?! Cepat pergi dari sini!" teriak ibu Bora sambil menggerakkan belalainya, menyuruh Bora menjauh dari tempat ini.

       "Tidak! Aku tidak mau!" balas Bora keras kepala. Kenapa ibunya masih bisa berkata seperti itu? Padahal jelas-jelas ia dalam keadaan terjebak api?

       "Cepat pergi, Bora!"

       "Bora! Ayo pergi!" Tiba-tiba saja Pipin datang ke tempatnya dan langsung menarik belalai Bora.

       "Tidak mau!" Bora menyentak belalai Pipin keras. "Ibu! Aku akan menyelamatkanmu!"

       "Jangan, Bora!" bentak Pipin

       Kraaak! Braaak!

       "IBU!! IBU!!" Bora terus meraung memanggil ibunya. Pohon yang sedang terbakar itu jatuh dan kemudian menimpa tubuh payah ibu Bora.

       "Ayo, Bora, kita harus pergi," lirih Pipin sambil menarik Bora.

       Sekali lagi Bora menoleh ke belakang saat dirinya sudah cukup jauh dari sarangnya. Tidak ada lagi hutan hijau dengan tumbuhan rindang di sekitarnya. Hutan hijau yang selalu ia kagumi sudah berubah menjadi hutan merah yang sangat panas.

Apa yang akan terjadi jika Bora mengikuti kata-kata Pipin….(Jawaban lebih dari satu)

a.Bora tidak akan bertemu dengan ibunya
b.Ibu Bora tidak akan tertimpa pohon
c.Pipin tidak akan menyeret Bora dengan belalainya
d.Ibu Bora selamat dari kebakaran
e.Bora tidak akan sedih
0%
0%
0%
100%
0%
View this question

Want instant access to all verified answers on moodle.ignatiusglobal.sch.id?

Get Unlimited Answers To Exam Questions - Install Crowdly Extension Now!

Browser

Add to Chrome