Looking for Bahasa Indonesia X (PSP) - 2425 test answers and solutions? Browse our comprehensive collection of verified answers for Bahasa Indonesia X (PSP) - 2425 at elabs-smaraw.labschool-unj.sch.id.
Get instant access to accurate answers and detailed explanations for your course questions. Our community-driven platform helps students succeed!
Bacalah dengan saksama teks berikut!
(Adegan: Siswa sedang berdiskusi di ruang kelas untuk memilih lagu ujian praktik seni musik, kemudian Pak Joko ikut memberikan arahan)
Tami: Teman-teman, ujian praktik Seni Musik sebentar lagi. Kita harus memilih satu lagu untuk ditampilkan. Ada usulan?
Dika: Aku usul lagu pop modern, misalnya lagu dari Tulus atau Nadin Amizah. Lagunya enak dan kekinian.
Santi: Wah, kalau menurutku lebih baik kita menyanyikan lagu daerah, seperti Bengawan Solo . Kita juga bisa sambil memperkenalkan budaya Indonesia.
Dika: Tapi lagu daerah kurang menarik untuk anak-anak seusia kita. Nanti malah jadi kurang semangat saat tampil.
Santi: Justru karena kurang populer di kalangan anak muda, kita harus membawakannya dengan aransemen yang lebih modern!
Tami: Hmm… bagaimana kalau kita menggabungkan ide kalian? Kita bisa membawakan lagu daerah tapi dengan aransemen musik pop agar lebih menarik.
Dika: Maksudnya, lagu daerah yang dibuat dengan gaya musik kekinian?
Santi: Itu ide bagus! Jadi kita tetap menampilkan unsur budaya, tapi dengan sentuhan modern agar lebih segar.
Pak Joko: Nah, itu namanya kompromi yang baik. Kalian bisa mengaransemen lagu daerah dengan nuansa pop, misalnya menggunakan gitar dan kibor. Selain itu, konsep ini bisa menunjukkan kreativitas kalian.
Tami: Setuju! Kalau begitu, kita pilih dengan aransemen musik pop. Semua setuju?
Dika & Santi:
Judul yang tepat untuk teks tersebut adalah ….
Baca dengan saksama kutipan puisi berikut ini!
Langit mendung menyiratkan sebuah kegalauan Serta kegelisahan yang menggurat pada wajah semesta Angin bertiup kencang dengan titik-titik air yang semakin derasnya Membuat sebagian insan merapat ke tempat peraduan Dan malas untuk menghadapi hari mereka Sebagian lagi mengutukinya
Makna titik-titik air pada puisi di atas adalah ....
Baca cermat kutipan puisi W.S. Rendra berikut ini!
Betapa dinginnya air sungai
Dinginnya!
Dinginnya!
Betapa dinginnya daging duka
Yang membaluti tulang-tulangku
Citraan yang dominan pada puisi tersebut adalah ....
Baca kutipan puisi ini dengan cermat!
Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api
(karya: W.S. Rendra)
Bagaimana mungkin kita bernegara Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya Bagaimana mungkin kita berbangsa Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama? Itulah sebabnya Kami tidak ikhlas menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu sehingga menjadi lautan api
dalam kutipan puisi tersebut melambangkan
....
Bacalah dengan saksama kutipan teks biografi berikut!
Y.B. Mangunwijaya mempunyai nama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya dan nama samaran Wastuwijaya atau Thalib Yusuf. Pastor yang lebih dikenal dengan panggilan Romo Mangun ini lahir 6 Mei 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah, dan meninggal 10 Februari 1999. Sejak kecil, anak sulung dari dua belas bersaudara, ayah Yulianus Sumadi Mangunwijaya dan ibu Serafin Kamdaniah ini memang bercita-cita ingin jadi insinyur. Ayahnya guru dan penilik sekolah di Magelang. Tahun 1943 keluarganya pindah ke Yogyakarta dan Mangunwijaya menamatkan sekolah lanjutan pertamanya di Yogyakarta tahun 1947. Setelah tamat SLA di Malang tahun 1951, ia hampir saja mendaftarkan diri ke Arsitektur ITB yang pada waktu itu baru dibuka. Namun, pertemuannya dengan Mas Isman, yang pernah menjadi komandannya, membuat ia untuk memilih menjadi pastor.
Sesuai teks, kesimpulan tentang latar belakang
pendidikan Y.B. Mangunwijaya adalah …
Bacalah kutipan puisi ini dengan cermat!
Menyesal (karya A. Hasjmy)
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracuni hati
Miskin ilmu miskin harta
Baca cermat puisi ini!
Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
Lewat perut anak-anak kelaparan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup
menahan kesabaran
Lewat gempa bumi yang mengguncang
Deru angin yang meraung-raung kencang
Hujan badai yang melintang-lintang
Adakah kau dengar
Tema puisi di atas adalah …Baca cermat puisi yang rumpang ini!
Andai esok tak ada lagi mentari
Arah langkah terhenti seketika
Langit berubah warna kelabu
Bunga-bunga mendadak layu
[...]
Larik bermajas yang tepat untuk melengkapi puisi tersebut adalah ...
Bacalah dengan saksama kutipan teks biografi berikut!
Marianne Katoppo pengarang wanita yang nama lengkapnya Henriette Marianne Katoppo dan terkenal dengan novelnya Raumanen (1977) ini lahir tanggal 9 Juni 1943 di Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara. Ia meninggal pada 12 Oktober 2007. Ia berasal dari keluarga yang gemar membaca. Ayahnya, Elvianus Katoppo, selain pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan di Negara Indonesia Timur pada zaman Republik Indonesia Serikat (RIS) juga merupakan salah seorang penyusun naskah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, tokoh gereja Indonesia Barat, dan pensiunan pegawai tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ibunya bernama Agnes Rumokoij. Bakatnya dalam karang-mengarang tampak sejak ia masih kanak-kanak. Ketika berumur 4 tahun, ia merasa iri kepada kakaknya, Josi, yang umurnya lebih tua 2 tahun, yang sudah bersekolah. Oleh karena itu, ia mulai belajar membaca dan menulis sendiri. Ketika ayahnya melihat hal itu, Marianne Katoppo diminta untuk menuliskan apa saja yang disenanginya. Sejak saat itu, ia mulai menulis dongeng atau pengalamannya. Pada awalnya ia menulis dalam bahasa Belanda. Beberapa tulisannya dimuat dalam rubrik anak-anak surat kabar Nieuwsgier yang namanya kemudian berganti menjadi Nusantara. Dia juga pernah mendapat hadiah. Sesudah tahun 1960, ia sering menulis cerita pendek dalam Sinar Harapan dan Ragi Buana.
Sesuai teks, bagaimana lingkungan keluarga memengaruhi
perkembangan bakat menulis Marianne Katoppo?